ADRO Cetak Laba Solid, BPI Muncul sebagai Katalis Baru
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kinerja Alamtri Resources Indonesia pada kuartal pertama 2026 membuka tahun dengan nada yang cukup meyakinkan. Laba bersih tercatat US$128 juta—memang turun tipis secara kuartalan, namun melonjak signifikan secara tahunan, mencerminkan fondasi operasional yang kian solid. Di balik angka ini, kombinasi klasik kembali bermain: harga jual rata-rata (ASP) batu bara metalurgi yang menguat dan volume penjualan yang tumbuh dua digit.
ASP naik ke US$183 per ton, terdorong kondisi pasar global yang masih ketat, sementara volume penjualan mencapai 1,46 juta ton. Kombinasi ini menciptakan efek operating leverage yang terasa jelas di level laba usaha, yang melesat +84% YoY menjadi US$146 juta. Meski secara QoQ sedikit terkoreksi, ini lebih mencerminkan normalisasi biaya operasional dari basis rendah di kuartal sebelumnya, serta kenaikan royalti yang mengikuti harga komoditas.
Namun, cerita kuartal ini tidak hanya soal batu bara.
Lonjakan mencolok datang dari lini joint venture. Pendapatan JV melonjak hampir sepuluh kali lipat secara tahunan, ditopang oleh kontribusi kuat dari PT Bhimasena Power Indonesia. Dengan availability factor pembangkit yang tinggi, BPI menyumbang sekitar US$23 juta ke ADRO hanya dalam satu kuartal—menjadikannya hampir seluruh kontribusi JV.
Secara segmental, mesin utama tetap berada pada lini mining yang mencatat pertumbuhan laba signifikan. Sebaliknya, segmen mining services mulai menunjukkan tekanan, dengan penurunan laba bersih meski efisiensi operasional masih terjaga.
Ke depan, arah cerita ADRO belum banyak berubah—namun semakin kaya lapisan.
Eksposur ke aluminium melalui Adaro Minerals Indonesia menjadi salah satu pilar pertumbuhan yang dinanti. Proyek PT Kalimantan Aluminium Industry memang masih dalam tahap commissioning dan belum berkontribusi, tetapi tren harga aluminium global yang menguat memberi sinyal positif untuk monetisasi ke depan.
Di sisi lain, 2026 juga akan menjadi tahun pertama ADRO menikmati aliran dividen penuh dari Adaro Andalan Indonesia—sebuah tambahan recurring income yang sebelumnya belum tercermin di awal tahun.
Sementara itu, kontribusi dari BPI berpotensi menjadi katalis tambahan yang lebih stabil, seiring kinerja operasional pembangkit yang konsisten.
Tetap saja, tidak semua lini bergerak searah. Segmen kontraktor tambang melalui PT Saptaindra Sejati menghadapi dinamika tersendiri, dengan penurunan volume coal transport meski aktivitas overburden justru meningkat tajam.
Pada akhirnya, ADRO kini berdiri di persimpangan menarik: bisnis batu bara yang masih kuat menopang, aluminium yang menjanjikan masa depan, dan JV yang mulai memberi kejutan.