INKOPPAS: Ketergantungan Impor Dinilai Jadi Pemicu Harga Pangan Mudah Naik

Oleh : Candra Mata | Senin, 25 Mei 2026 - 08:41 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali memicu gejolak harga pangan di pasar domestik. Ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor dinilai membuat harga kebutuhan pokok sangat rentan terhadap penguatan mata uang asing.

Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS), Andrian Lame Muhar mengatakan, sebagian besar komoditas pangan nasional masih dihitung menggunakan mata uang dolar AS, sehingga pelemahan rupiah langsung berdampak pada harga jual di tingkat pasar.

“Banyak harga pangan itu diperhitungkan dengan USD. Kalau dolar naik, harga-harganya pun otomatis ikut naik,” ujar Andrian Lame kepada wartawan di Jakarta.

Menurutnya, sejumlah komoditas yang paling terdampak antara lain daging sapi impor asal Australia, bawang putih dari China, hingga minyak goreng. Bahkan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan pangan utama, tetapi juga pada sektor pendukung seperti kemasan produk.

Andrian menjelaskan, kelangkaan nafta akibat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz ikut memicu kenaikan biaya bahan baku kemasan. Kondisi tersebut memperberat tekanan terhadap masyarakat yang saat ini daya belinya sedang melemah menjelang Iduladha.

“Situasi ini cukup berat karena terjadi ketika lapangan pekerjaan terbatas dan pendapatan masyarakat cenderung stagnan,” katanya.

Subsidi Dinilai Jadi Solusi Paling Cepat

Dalam menghadapi lonjakan harga pangan, INKOPPAS menilai langkah subsidi dari pemerintah masih menjadi instrumen paling efektif untuk menjaga stabilitas harga, terutama dalam jangka pendek.

Andrian menyebut sejumlah intervensi yang telah dilakukan pemerintah sejauh ini cukup membantu, mulai dari penyaluran beras SPHP, penyediaan daging kerbau sebagai alternatif daging sapi impor, hingga kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk minyak goreng.

Selain itu, pemerintah juga memberikan relaksasi pajak bagi sejumlah komoditas pangan dan subsidi angkutan laut guna menekan biaya distribusi logistik.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa strategi substitusi pangan tidak selalu mudah diterapkan. Untuk komoditas seperti bawang putih, misalnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor karena belum tersedia produk lokal dengan kapasitas dan kualitas yang memadai.

Sementara itu, harga daging sapi lokal dinilai sulit turun karena tingkat rendemen karkas ternak domestik masih relatif rendah.

“Harga daging lokal sudah tinggi karena rendemen karkasnya hanya sekitar 45 persen dari bobot hidup ternak,” jelasnya.

Apresiasi Dukungan Kementan

Di sektor peternakan, INKOPPAS turut mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian yang memberikan bantuan subsidi pakan dan bibit ayam kepada peternak.

Kebijakan tersebut dinilai mampu menekan Harga Pokok Produksi (HPP) sehingga harga jual daging ayam di pasar dapat lebih terjangkau bagi masyarakat.

“Dengan biaya produksi yang lebih rendah, harapannya harga daging ayam bisa tetap stabil dan terjangkau,” tutur Andrian.

Ia menegaskan bahwa stabilitas harga pangan sangat bergantung pada ketersediaan stok di pasar. Ketika pasokan terganggu, harga cenderung melonjak dalam waktu singkat.

Digitalisasi Pasar Jadi Strategi Jangka Panjang

Selain mendorong subsidi, INKOPPAS kini mempercepat digitalisasi koperasi pedagang pasar sebagai solusi jangka panjang untuk memperkuat tata kelola distribusi dan stabilitas harga pangan.

Program tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Bank BTN, guna memigrasikan sistem administrasi koperasi dari manual menuju digital.

“Kami sedang migrasi data dari manual ke digital agar pengelolaan data menjadi lebih rapi, aman, dan efisien,” ungkapnya.

Digitalisasi yang dikembangkan mencakup sistem simpan pinjam koperasi, transaksi non-tunai di pasar tradisional, hingga platform terpadu untuk pemantauan harga, penyaluran KUR, pelatihan pedagang, dan fasilitasi penjualan daring.

Saat ini, tiga koperasi pasar telah mulai menerapkan sistem tersebut dan INKOPPAS berharap implementasinya bisa diperluas secara nasional.

Meski begitu, tantangan di lapangan masih cukup besar, mulai dari keterbatasan jaringan internet hingga rendahnya literasi digital di kalangan pedagang pasar tradisional.

“Dengan digitalisasi, harga pangan bisa lebih mudah dipantau, distribusi bantuan lebih tepat sasaran, dan pedagang pasar bisa naik kelas mengikuti perkembangan zaman,” pungkas Andrian.