Dari Industri Kreatif hingga Inklusivitas, Cahaya Manthovani Jadi Inspirasi Generasi Muda

Oleh : Hariyanto | Minggu, 24 Mei 2026 - 14:08 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif Indonesia, nama Cahaya Manthovani mulai mencuri perhatian. Di usia yang masih muda, ia dipercaya memimpin berbagai event nasional melalui PT Navaswara Bhuwana Kencana dengan pendekatan yang tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa pesan sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Perempuan lulusan Kyungsung University, Korea Selatan itu mengaku perjalanan kariernya di industri kreatif berawal dari proses yang mengalir. Pengalamannya menempuh pendidikan architectural design di Korea Selatan menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap kreativitas dan inovasi.

“Semua berawal dari mengikuti alur hidup. Sebagai lulusan architectural design di Korea Selatan, yaitu negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah awal mula saya menjejaki karier,” ujar Cahaya Manthovani.

Ia mengatakan, industri kreatif memang telah menjadi bagian dari dirinya sejak awal. Namun, dunia event organizer hadir sebagai perjalanan yang berkembang seiring pengalaman dan komitmennya dalam bekerja.

“Dari awal industri kreatif sudah ada di dalam jiwa saya, tapi kalau event adalah sesuatu yang mengikuti alur hidup. Dengan saya mengerjakan setiap pekerjaan dengan komitmen yang tinggi, Alhamdulillah orang-orang percaya terhadap saya,” lanjutnya.

Sejumlah agenda nasional sukses dipimpinnya, mulai dari Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, Inklusiland 2025, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026, hingga Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026. Di tangan Cahaya, setiap event dirancang bukan hanya sebagai seremoni, melainkan medium membangun percakapan publik mengenai budaya, inklusivitas, dan pengembangan kapasitas generasi muda.

Menurutnya, sebuah event harus memiliki tujuan yang jelas dan dampak nyata bagi masyarakat luas.

“Ketika ingin membuat sebuah event, kita sendiri harus tahu betul tujuan utamanya itu apa. Efeknya apa? Apakah hanya berguna untuk sendiri atau bisa menginspirasi orang banyak?” kata Cahaya.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Suara Nusantara, festival storytelling yang mengangkat cerita rakyat Indonesia. Cahaya menginisiasi kegiatan tersebut karena melihat semakin menurunnya interaksi sosial dan keberanian generasi muda untuk tampil di depan publik.

“Contoh, Suara Nusantara. Saya menginisiasi acara ini karena melihat semua orang kebanyakan sibuk bermain dengan gadgetnya sendiri. Ketika diminta untuk presentasi atau bersosialisasi, lebih banyak yang mundur atau gugup,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsep storytelling dipilih sebagai cara menyenangkan untuk meningkatkan kepercayaan diri sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.

“Nah, untuk menaikkan awareness dengan cara yang menyenangkan itu seperti apa sih? Salah satunya Suara Nusantara. Peserta wajib membaca dan memahami cerita-cerita rakyat di daerah Indonesia. Efek dari event ini bukan saja melestarikan cerita rakyat, tetapi juga meningkatkan percaya diri dan pengalaman para peserta,” sambung Cahaya.

Tak hanya aktif di industri kreatif, Cahaya juga dikenal memiliki kepedulian besar terhadap isu inklusivitas. Sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia aktif menginisiasi berbagai program sosial untuk anak-anak disabilitas. Salah satu program yang menjadi sorotan adalah inisiatif Makanan Bergizi Gratis-Swasta untuk sekolah khusus/disabilitas di Provinsi Banten yang melibatkan 12 UMKM dan menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat.

Selain itu, Cahaya juga berada di balik penyelenggaraan Inklusiland yang digelar dalam rangka Hari Disabilitas Internasional. Acara tersebut menghadirkan ruang inklusif yang mempertemukan komunitas, keluarga, pelaku kreatif, hingga masyarakat umum.

Pengalaman internasional juga pernah dirasakannya saat dipercaya menjadi CDM ASEAN Youth Paragames 2025 Dubai. Pada ajang olahraga multi event tersebut, kontingen Indonesia berhasil meraih total 59 medali yang terdiri atas 23 emas, 23 perak, dan 13 perunggu.

Bagi Cahaya, keberhasilan sebuah event tidak mungkin dicapai tanpa kolaborasi. Ia percaya kerja sama lintas sektor menjadi kunci dalam menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

“Kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban dunia tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” ujarnya.

Ia juga menilai promosi melalui media sosial saja belum cukup untuk membangun jangkauan yang lebih besar.

“Setiap event yang saya buat, hanya dengan posting di sosial media saja belum cukup. Perlu ada kerja sama dengan sektor lain. Ini ditujukan untuk mencapai audience baru,” kata Cahaya.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak individu kompeten yang dapat saling belajar dan berkembang bersama melalui kolaborasi.

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi paling banyak di dunia. Beragam isinya, dan juga banyak sekali orang-orang kompeten di bidangnya masing-masing. Saya selalu membuka diri untuk belajar dengan berkolaborasi bersama,” tuturnya.

Meski telah meraih banyak pencapaian, Cahaya mengakui perjalanan kariernya tidak selalu mudah. Ia kerap menghadapi tantangan berupa penilaian awal orang lain yang menganggap dirinya terlalu muda untuk memimpin proyek-proyek besar.

“Tantangan terbesar adalah first impression orang-orang terhadap saya. Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat sangat lebih muda dari umur saya, semua orang selalu mengira saya bocah SMP, SMA, atau kuliah, tidak pernah ada yang mengira saya berusia 26 tahun,” ungkapnya.

Namun, ia memilih menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan kualitas kerja dan komitmennya.

“Dengan berjalan waktu, mereka akan mengungkapkan intensi di belakang, dan saat itulah saya mulai memperlihatkan ketegasan, ketelitian, tegak lurus dan komitmen terhadap misi dan tujuan pekerjaan saya menuju kesuksesan,” katanya.

Ia bahkan menegaskan bahwa dirinya selalu menempatkan diri dan tim sebagai pemenang dalam setiap proyek yang dijalankan.

“Saya selalu memposisikan diri saya dan tim sebagai pemenang, karena saya tidak ada keinginan lain selain berkomitmen dan fokus terhadap target yang ingin dicapai. Industrinya memang kompetitif. Tapi saya lebih kompetitif dari industrinya sendiri,” ujar Cahaya.

Konsistensinya di industri kreatif dan kegiatan sosial turut membawanya meraih sejumlah penghargaan bergengsi. Cahaya dianugerahi Puspa Nawasena dalam Anugerah Puspa Bangsa 2025 yang digelar Kompas TV, serta penghargaan The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.

Di tengah kesibukannya memimpin berbagai proyek kreatif, Cahaya tetap mendorong generasi muda Indonesia untuk terus belajar dan membangun kapasitas diri secara konsisten.

“Harus sering belajar, sering berlatih skills apa pun yang diminati, sering membaca buku atau berita dan memahaminya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa menjadi entrepreneur bukan sesuatu yang dapat diraih secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang dan ketekunan.

“Menjadi entrepreneur bukan sesuatu hal yang bisa dibangun secara instan. Perlu waktu dan ketekunan yang lama. Kuncinya adalah percaya diri dan konsistensi terhadap perkembangan diri,” tutup Cahaya.

Bagi banyak anak muda, Cahaya Manthovani kini menjadi representasi generasi baru pemimpin industri kreatif Indonesia yang adaptif, visioner, dan memiliki kepedulian sosial yang kuat.