Indonesia Supply Chain Exhibition 2026, Platform Global untuk Masa Depan Logistik Nasional
INDUSTRY.co.id - Jakarta menjadi saksi lahirnya sebuah inisiatif strategis baru bagi sektor logistik nasional. Bertempat di The Westin Jakarta, Indonesia Supply Chain Exhibition & Conference resmi diperkenalkan kepada publik—sebuah platform internasional yang dirancang untuk memperkuat fondasi rantai pasok Indonesia di tengah fase pertumbuhan yang semakin dinamis.
Digagas oleh Deutsche Messe, Debindo Global Expo, dan CargoNOW, ajang ini sekaligus menandai kembalinya CeMAT ke Jakarta—membawa serta jejaring global, teknologi mutakhir, dan pengalaman panjang dalam dunia intralogistik serta otomasi.
Dijadwalkan berlangsung pada 25–27 November 2026 di Nusantara International Convention & Exhibition (NICE – PIK 2), pameran ini akan menjadi titik temu lintas sektor: dari produsen, penyedia logistik, perusahaan teknologi, hingga pelaku e-commerce dan pemangku kebijakan. Beragam solusi akan dipamerkan, mulai dari transportasi, pergudangan, otomasi, hingga sektor spesifik seperti cold chain dan logistik farmasi.
Di balik penyelenggaraan ini, terdapat kesadaran kolektif bahwa Indonesia tengah berada di titik krusial. Pertumbuhan industri, lonjakan e-commerce, serta pembangunan infrastruktur berskala besar telah mengubah lanskap distribusi nasional secara signifikan. Namun di saat yang sama, tantangan lama masih membayangi—biaya logistik yang tinggi, yang bahkan melampaui 20% dari PDB.
Mike Nissen dari jaringan Hannover Messe menilai bahwa Indonesia kini berada pada momentum yang tepat untuk memiliki platform berskala global. “Indonesia Supply Chain hadir bukan sekadar sebagai pameran, melainkan sebagai ruang intervensi strategis—menghubungkan kebutuhan operasional lokal dengan keahlian internasional, sekaligus menjadi katalis transformasi melalui kembalinya ekosistem CeMAT ke Jakarta.”
Pandangan serupa disampaikan oleh Rafidi Iqra dari Debindo Global Expo, yang melihat ajang ini sebagai wadah kolaborasi lintas industri. "Masa depan rantai pasok Indonesia akan sangat ditentukan oleh digitalisasi dan efisiensi, dua elemen yang kini menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing."
Sementara itu, Dr. Raymond Krishnan dari The Logistics & Supply Chain Management Society menyoroti urgensi modernisasi. "Dengan biaya logistik yang masih tinggi, Indonesia membutuhkan lompatan teknologi dan otomasi. Indonesia Supply Chain sebagai jembatan antara inovasi global dan implementasi lokal—menghubungkan kebutuhan e-commerce hingga cold chain dalam satu ekosistem terpadu."
Lebih jauh, kehadiran acara ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan global Hannover Messe, menegaskan peran strategisnya sebagai salah satu pusat pertumbuhan rantai pasok di kawasan ASEAN.
Pada akhirnya, Indonesia Supply Chain 2026 bukan hanya tentang pameran teknologi atau transaksi bisnis. Ia mencerminkan sebuah fase baru—di mana efisiensi, konektivitas, dan kolaborasi menjadi fondasi bagi masa depan logistik Indonesia.