Tekanan Global Dorong Akselerasi Transformasi Logistik, AI dan Multimoda Jadi Kunci

Oleh : Hariyanto | Selasa, 21 April 2026 - 14:37 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta — Industri logistik global kian terjepit di tengah pusaran tekanan berlapis. Kenaikan biaya energi yang tak kunjung mereda, volatilitas rantai pasok akibat eskalasi ketegangan geopolitik, serta pergeseran pola perdagangan dunia memaksa tarif pengiriman terus menanjak.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan kapasitas dan gangguan rantai pasok yang membuat biaya logistik menjadi lebih mahal dan akses yang terbatas.

Di level regional, Asia yang menopang lebih dari 40% perdagangan global tidak tinggal diam. Kawasan ini bergerak cepat beradaptasi dengan memperkuat rantai pasok logistik berbasis transportasi multimoda dan teknologi.

Integrasi antara transportasi laut, udara, darat, dan kereta api yang ditopang digitalisasi serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini diposisikan sebagai strategi utama untuk menjaga efisiensi, kecepatan, serta ketahanan rantai pasok.

Senior Vice President FIATA sekaligus Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai bahwa tekanan global justru membuka ruang bagi pelaku industri untuk mempercepat transformasi.

“Pendekatan transportasi multimoda bukan lagi pilihan dalam penguatan sistem logistik nasional, melainkan kebutuhan agar menjadi lebih kompetitif dan resilien. Namun, integrasi fisik pada pembangunan infrastruktur saja tidak cukup, dimana hal ini harus didukung oleh pemanfaatan teknologi, khususnya AI,” ujar Yukki di Jakarta, Selasa (21/4/2026). 

Indonesia sendiri memegang kartu penting dalam peta logistik kawasan. Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan kontribusi lebih dari 35% terhadap PDB ASEAN, Indonesia memiliki peran strategis dalam rantai pasok regional dan global.

Meski begitu, pekerjaan rumah masih menumpuk. Biaya logistik nasional masih relatif tinggi, sementara ketergantungan sekitar 90% pada transportasi darat menunjukkan bahwa efisiensi dan integrasi sistem logistik perlu ditingkatkan secara signifikan.

Menurut Yukki, AI menjadi pembeda yang mampu mendongkrak kinerja sistem logistik nasional. Teknologi ini memungkinkan pelaku usaha meningkatkan efisiensi operasional melalui demand forecasting yang lebih akurat, optimalisasi rute distribusi, serta kemampuan predictive analytics dalam mengantisipasi gangguan rantai pasok seperti yang terjadi dalam eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

“Dengan AI, pelaku usaha logistik tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, tetapi mampu mengantisipasi dan mengelola risiko secara proaktif. Ini akan berdampak langsung pada efisiensi biaya dan peningkatan kualitas layanan,” jelas Yukki.

Di sisi lain, integrasi digital melalui platform National Logistics Ecosystem (NLE) disebut sebagai langkah strategis untuk menciptakan visibilitas hulu ke hilir pada rantai pasok nasional. Penguatan NLE dengan dukungan AI diyakini mampu menurunkan biaya transaksi, mempercepat proses distribusi, serta meningkatkan transparansi dan kepercayaan antar pelaku industri.

“Dengan menggabungkan kekuatan multimoda, integrasi supply chain, dan pemanfaatan AI, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi logistik nasional. Ini bukan hanya tentang menurunkan biaya, tetapi juga meningkatkan daya saing dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” tutup Yukki.