PALM Tebar Dividen Rp50 Miliar, Laba 2025 Melonjak 193%

Oleh : Candra Mata | Kamis, 18 Juni 2026 - 08:51 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp50 miliar dari laba tahun buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Rabu (17/6/2026). Nilai tersebut setara dengan 2,97% dari laba bersih perseroan sepanjang tahun lalu.

Keputusan pembagian dividen ini mencerminkan upaya PALM menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil kepada pemegang saham dan kebutuhan pendanaan untuk ekspansi investasi jangka panjang.

Sepanjang 2025, PALM membukukan laba bersih sebesar Rp1,85 triliun atau melonjak 193% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas yang mencapai Rp2,23 triliun. Sementara itu, total aset perseroan meningkat 17% menjadi Rp9,19 triliun dari Rp7,87 triliun pada 2024.

Presiden Direktur Provident Investasi Bersama, Tri Boewono, menilai capaian tersebut menunjukkan efektivitas strategi investasi perusahaan sekaligus kualitas sumber daya manusia yang dimiliki PALM dalam mengelola peluang investasi di Indonesia.

“Pembagian dividen untuk tahun buku 2025 yang diputuskan RUPST hari ini menjadi salah satu bukti kinerja tim investasi kami yang sangat baik. Kami akan terus mendorong kapasitas dan kualitas SDM PALM untuk memastikan bahwa setiap investasi yang dilakukan Perusahaan mampu tumbuh positif secara berkelanjutan,” jelas Tri Boewono dalam Public Expose PALM usai RUPST, di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut Tri, perseroan masih berada dalam fase ekspansi portofolio yang aktif. Karena itu, sebagian besar laba tetap dipertahankan untuk memperkuat kapasitas investasi, khususnya pada tiga sektor utama yang menjadi fokus PALM, yakni sumber daya alam, teknologi-media-telekomunikasi (TMT), dan logistik.

“Tiga sektor tersebut memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang sangat baik dan menjadi katalis utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami berharap setiap investasi PALM juga mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tambah Tri Boewono.

Memasuki 2026, kinerja perusahaan menunjukkan tren pertumbuhan yang berlanjut. Pada kuartal I/2026, PALM membukukan laba periode berjalan sebesar Rp2,32 triliun, meningkat 263,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan tersebut didukung kenaikan keuntungan neto atas investasi saham dan efek ekuitas lainnya sebesar 287,2% menjadi Rp2,44 triliun. Di saat yang sama, total aset perseroan bertambah 25,6% menjadi Rp11,55 triliun.

Baca Artikel Lainnya

IPO PRDL 2026: Harga Saham, Detail Lengkap, dan Profil Prodia Diagnostic Line

Konektivitas Andal Jadi Penopang Operasional Ribuan Pelaku Usaha di Jakarta Fair 2026

PINTU Ukir Rekor sebagai Perusahaan Kripto Pertama Peraih Gold IRCA Dua Kali Berturut-turut

Direktur PALM Ellen Kartika mengatakan strategi investasi aktif yang dijalankan perusahaan terus memberikan hasil yang konsisten di tengah dinamika pasar.

“Kinerja 2025 dan kuartal I/2026 membuktikan bahwa strategi investasi aktif yang kami jalankan memberikan hasil yang konsisten. Kami membangun portofolio di sektor-sektor dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang," jelas Direktur PALM Ellen Kartika.

Ellen menjelaskan, salah satu faktor yang mendukung kinerja perseroan adalah keberhasilan divestasi saham PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP) melalui entitas anak PT Suwarna Arta Mandiri (SAM) pada September 2025.

Transaksi tersebut menghasilkan realisasi keuntungan yang signifikan sekaligus membuka ruang bagi percepatan pembayaran utang, sehingga memperkuat struktur keuangan perusahaan dan mendukung restrukturisasi portofolio investasi ke depan.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan volatilitas pasar keuangan, PALM terus menerapkan strategi pengelolaan portofolio secara aktif dan adaptif. Pendekatan tersebut tercermin dari kepemilikan investasi pada dua emiten tambang nasional, yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

Sebagai perusahaan pertambangan emas, perak, tembaga, dan nikel terintegrasi, MDKA dinilai berada pada posisi yang menguntungkan seiring tingginya harga komoditas logam mulia dan logam industri di pasar global.

Hingga 31 Maret 2026, PALM tercatat memiliki 1,34 miliar saham MDKA dengan nilai wajar investasi mencapai Rp4,20 triliun. Saham tersebut diperoleh pada harga rata-rata Rp512,53 per saham, sementara nilai wajarnya saat ini mencerminkan harga pasar Rp3.140 per saham.

Dengan demikian, investasi PALM pada MDKA telah meningkat sebesar 512,65% atau lebih dari lima kali lipat dibandingkan modal awal yang ditanamkan.

“Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan, aset dengan karakteristik defensif dan memiliki fundamental kuat menjadi semakin menarik. MDKA merupakan salah satu contoh investasi yang kami nilai memiliki posisi strategis karena didukung eksposur terhadap komoditas emas yang saat ini menunjukkan tren positif,” ujar Ellen.