Transisi Energi Indonesia: Antara Target Net Zero dan Tantangan Kesejahteraan Masyarakat Rentan

Oleh : Hariyanto | Kamis, 30 April 2026 - 11:41 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Volatilitas harga energi global yang saat ini tengah memengaruhi perekonomian dunia telah menjadi momentum kuat bagi banyak negara, termasuk Indonesia, untuk mempercepat transisi energi. Pemerintah Indonesia bahkan telah menegaskan komitmennya untuk merealisasikan target emisi net zero sepuluh tahun lebih awal dari rencana semula, yakni pada tahun 2050.

Namun, di tengah ambisi besar tersebut, para ahli mengingatkan bahwa kebijakan mengenai energi harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena memiliki dampak yang signifikan terhadap kondisi ekonomi dan sosial masyarakat secara langsung.

​Guna mendalami dampak tersebut, akademisi dari Australian National University, Prof. Budy Resosudarmo, menekankan pentingnya pengembangan model untuk menguji pengaruh kebijakan lingkungan terhadap masyarakat.

Melalui kolaborasi riset Australia-Indonesia yang menggabungkan Global Change Analysis Model (GCAM) dan mikrosimulasi, tim peneliti menemukan fakta bahwa semakin cepat capaian transisi energi menuju emisi nol bersih, maka semakin besar pula tekanan terhadap kesejahteraan masyarakat yang berujung pada peningkatan angka kemiskinan.

Beban ini ditemukan jauh lebih berat bagi rumah tangga rentan, seperti keluarga yang dikepalai oleh perempuan, atau yang memiliki anggota keluarga disabilitas, lansia, dan anak-anak.

​Alin Halimatussaidah dari Universitas Indonesia, yang juga anggota tim riset Prof. Budy menyoroti pentingnya keadilan dalam proses peralihan ini. Menurutnya, temuan tentang dampak ketimpangan kesejahteraan bagi kelompok rentan tersebut mempertegas urgensi transisi energi yang adil. Alin menyatakan bahwa intervensi pemerintah sangat dibutuhkan untuk memitigasi dampak negatif tersebut.

“Intervensi dari pemerintah antara lain lewat stimulus fiskal dan daur ulang pendapatan dari penerapan harga karbon yang efektif dapat mengembalikan kesejahteraan rumah tangga yang tergolong rentan tadi seperti semula,” ungkap Alin pada Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (29/4/2026). 

​Menanggapi riset tersebut, Koordinator Rencana dan Laporan Sekretariat Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Widya Adi Nugroho, memberikan apresiasi tinggi karena hasil studi ini berpotensi menjadi masukan berharga bagi intervensi kebijakan di masa depan. Widya menjelaskan bahwa saat ini pemerintah memang sedang mendorong transisi energi yang berkeadilan.

Ia juga menegaskan bahwa dalam mencapai target tersebut, kebijakan yang dirancang tidak boleh hanya dilihat dari aspek energi semata. “Mencapai itu, kebijakan yang dirancang tidak bisa dilihat dari dari sisi energi saja, tetapi juga bagaimana dampaknya ke ekonomi dan sosial,” tutur Widya.

​Selain membahas sisi pemodelan kebijakan, forum Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (KIE) di Jakarta juga mengangkat inovasi teknologi di tingkat tapak sebagai solusi praktis. Salah satu riset terapan yang menonjol adalah kolaborasi antara University of Newcastle, Universitas Trunojoyo Madura, RMIT, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Mereka mengembangkan prototipe teknologi sistem Organic Rankine Cycle (ORC) dan Seawater Reverse Osmosis (SWRO) di Madura untuk menjawab tantangan ketersediaan air bersih dan ketahanan energi di wilayah dengan tingkat kemiskinan mencapai 20 persen tersebut.

​A/N Prof. Wahyudi Agustiono dari Universitas Trunojoyo menjelaskan bahwa inovasi ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat yang selama ini hanya mengandalkan pendapatan dari pengolahan garam tradisional. Melalui teknologi panel surya, masyarakat kini dapat mengolah air laut menjadi air bersih sekaligus menghasilkan energi.

Meski masih dalam tahap penelitian awal, teknologi ini mampu menghasilkan daya surya hingga 3.016 W dan memproduksi 2 liter air layak minum per menit. “Ini masih di tahap penelitian awal dan perlu pengembangan untuk membuat desainnya lebih sesuai, tetapi kami harap bisa direplikasi di tempat lain,” jelas Wahyudi.

​Melihat potensi besar dari inovasi teknologi ini, Chief Technology and Sustainability Officer PLN, Evy Haryadi, turut menyampaikan apresiasinya. Namun, Evy memberikan catatan penting mengenai keberlanjutan proyek tersebut di masa depan.

Ia menekankan bahwa agar solusi teknologi ini dapat diterapkan secara luas atau dalam skala besar, diperlukan pertimbangan matang mengenai model pendanaan yang berkelanjutan, baik bagi penyedia layanan seperti PLN maupun bagi masyarakat pengguna itu sendiri.