Mulia Industrindo Cetak Sejarah! Resmikan PLTS Atap Terbesar Berkapasitas 22,5 MW di Cikarang

Oleh : Ridwan | Kamis, 30 April 2026 - 07:45 WIB

INDUSTRY.co.id - Cikarang - Langkah besar menuju industri hijau di Indonesia kembali tercatat. PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 22,5 MWp, yang disebut sebagai salah satu instalasi terbesar di sektor industri dan komersial di Tanah Air.

Peresmian ini menjadi simbol kuat percepatan transisi energi nasional sekaligus bukti bahwa sektor industri mampu bertransformasi menuju sistem produksi yang lebih ramah lingkungan.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050, sebagai bagian dari komitmen nasional mencapai NZE paling lambat 2060.

“Kerangka kebijakan ini menegaskan peran strategis sektor industri dalam transformasi ekonomi menuju pembangunan berkelanjutan dan netral karbon,” ujarnya saat meresmikan PLTS Atap di kawasan Mulia Industri di Cikarang, Jawa Barat (29/4).

Ia menjelaskan, implementasi dekarbonisasi difokuskan pada sembilan subsektor prioritas, yakni semen, pupuk, pulp dan kertas, logam, kimia, tekstil, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta otomotif. 

"Sektor-sektor ini merupakan kontributor utama emisi sekaligus kunci transformasi menuju industri rendah karbon,' kata Emmy.

Untuk mempercepat transisi, Kemenperin telah menyusun strategi berbasis Low Carbon Technology (LCT), yang mencakup efisiensi energi, pemanfaatan energi alternatif seperti biomassa, gas bumi, hingga hidrogen, serta elektrifikasi proses industri.

Di sisi lain, tantangan besar masih membayangi. Struktur energi nasional saat ini masih didominasi batu bara sebesar 41,46 persen, disusul minyak bumi 27,35 persen. Sementara energi baru terbarukan (EBT) baru mencapai 15,96 persen.

Kondisi ini diperkuat dengan tingginya konsumsi energi sektor industri yang mencapai 45,94 persen dari total konsumsi nasional. Hal tersebut menegaskan urgensi percepatan transisi energi, khususnya di sektor manufaktur.

Sebagai langkah konkret, pemerintah juga memperketat penerapan Standar Industri Hijau (SIH). Salah satunya melalui pembatasan konsumsi energi di industri, seperti pada industri kaca lembaran yang kini diwajibkan mengikuti Permenperin No. 46 Tahun 2024.

Regulasi tersebut menetapkan batas konsumsi energi maksimal 148 kWh per ton untuk listrik dan 8,4 GJ per ton untuk energi panas.

Sementara itu, pemerintah juga menyiapkan peta jalan energi nasional hingga 2060 melalui Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), dengan target kapasitas pembangkit mencapai 443 GW. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen ditargetkan berasal dari energi terbarukan.

Menurut Emmy, pengembangan PLTS menjadi salah satu fokus utama dengan target kapasitas mencapai 109 GW pada 2060. Hal ini membuka peluang besar bagi industri dalam negeri, termasuk produsen modul surya.

Saat ini, terdapat 34 pabrikan modul surya di Indonesia dengan total kapasitas produksi mencapai 10.944 MWp per tahun dan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) berkisar 40–55 persen.

Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Harris, menyebut keberhasilan Mulia Industrindo sebagai tonggak penting dalam implementasi transisi energi nasional.

“Mulia menjadi industri yang berhasil mengoperasikan PLTS atap terbesar di awal 2026. Ini bagian penting dari upaya kita mendorong energi baru terbarukan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah akan terus menyelesaikan berbagai tantangan, termasuk keterbatasan kuota PLTS atap, secara bertahap.

Direktur PT Mulia Industrindo Tbk, Ekman Tjandranegara menegaskan bahwa investasi pada energi surya bukan hanya langkah lingkungan, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang.

“Kami tidak hanya mengurangi jejak karbon, tetapi juga melindungi keberlanjutan produksi dari volatilitas energi global,” kata Ekman.

Menurutnya, di tengah tekanan geopolitik global dan ketidakpastian pasokan energi, pemanfaatan energi surya memberikan kemandirian sekaligus stabilitas bagi industri.

“Ini bukan sekadar inisiatif hijau, tetapi langkah strategis untuk keamanan energi,” ujarnya.

Ia berharap langkah ini dapat menjadi inspirasi bagi industri lain di Indonesia untuk turut mempercepat transisi menuju energi bersih.