Harga Kakao Global Menguat, Nilai Ekspor Indonesia Tembus US$3,5 Miliar
INDUSTRY.co.id - Jakarta — Kinerja ekspor kakao Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang 2025 meski industri kakao global masih menghadapi tekanan pasokan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kakao nasional mencapai US$3,5 miliar atau tumbuh 36% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh tingginya harga kakao dunia serta permintaan yang tetap kuat dari pasar internasional.
Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan pertumbuhan nilai ekspor terjadi meskipun volume pengiriman kakao Indonesia turun sekitar 2% sepanjang tahun lalu. Kondisi tersebut ditopang oleh kenaikan rata-rata harga kakao global sebesar 6%.
"Kenaikan harga terjadi di tengah terbatasnya pasokan kakao global yang menjaga harga komoditas tetap berada pada level relatif tinggi. Kondisi ini turut mendorong kinerja ekspor kakao Indonesia, yang didominasi produk olahan bernilai tambah sehingga memiliki daya saing kuat di pasar global," ujar Rini dalam keterangannya, Rabu (17/6).
Produk lemak dan minyak kakao dengan kode HS 180400 menjadi kontributor terbesar ekspor kakao nasional dengan nilai mencapai US$2,2 miliar atau sekitar 62% dari total ekspor kakao Indonesia sepanjang 2025. Menurut Rini, struktur ekspor kakao Indonesia kini semakin bergeser dari bahan baku menuju produk olahan seperti lemak dan minyak kakao, bubuk kakao, serta pasta kakao.
"Hal ini menunjukkan semakin kuatnya daya saing industri kakao nasional sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia," katanya.
Dari sisi pasar tujuan, Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar kakao Indonesia dengan nilai ekspor mencapai US$619 juta atau sekitar 17% dari total ekspor nasional. Posisi tersebut diikuti India dengan nilai US$618 juta dan Tiongkok sebesar US$446 juta. Ketiga negara tersebut juga mencatat lonjakan permintaan yang signifikan, masing-masing tumbuh 141%, 196%, dan 105%.
Dalam perdagangan global, Indonesia menempati posisi ke-12 sebagai eksportir kakao dunia dengan pangsa pasar sekitar 3% atau senilai US$2,6 miliar pada 2024. Sementara pasar ekspor global masih didominasi oleh Jerman, Belanda, dan Pantai Gading.
Meski demikian, peluang ekspansi pasar masih terbuka lebar. Berdasarkan perhitungan International Trade Centre (ITC), terdapat potensi ekspor kakao sekitar US$1 miliar yang masih dapat digarap Indonesia, terutama di pasar Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia.
Rini menilai prospek ekspor kakao Indonesia masih cukup menjanjikan seiring kuatnya permintaan global di tengah terbatasnya pasokan bahan baku. Menurut dia, penguatan harga kakao dunia, hilirisasi produk, serta kinerja industri pengolahan domestik yang relatif stabil menjadi faktor yang akan menopang peningkatan ekspor ke depan.
Baca Artikel Lainnya
Menperin Agus Gumiwang Siapkan Aturan Baru, SNI Wajib Air Minum Kemasan Berlaku Oktober 2026
Hari Tempe Nasional 2026 Dorong Tempe Jadi Instrumen Diplomasi dan Penggerak Ekonomi Global
Menperin Agus Gumiwang Suntik Insentif untuk Industri Susu, Mesin Baru Diganti Hingga 35 Persen
Dengan semakin besarnya porsi produk olahan dalam struktur ekspor, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk terus meningkatkan nilai tambah dan memperkuat daya saing industri kakao nasional di pasar internasional.