Menperin Agus Gumiwang Suntik Insentif untuk Industri Susu, Mesin Baru Diganti Hingga 35 Persen

Oleh : Ridwan | Senin, 15 Juni 2026 - 16:45 WIB

INDUSTRY.co.idJakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan produksi susu segar dalam negeri (SSDN) masih jauh dari kebutuhan industri nasional. Saat ini, pasokan susu lokal baru mampu memenuhi sekitar 20% dari total kebutuhan industri pengolahan susu (IPS), sementara sisanya masih bergantung pada bahan baku impor.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Karena itu, Kemenperin terus mendorong penguatan ekosistem industri susu nasional dari hulu hingga hilir.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan kemitraan antara industri pengolahan susu, peternak, dan koperasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri.

"Saat ini, produksi Susu Segar Dalam Negeri baru memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan industri. Oleh karena itu, penguatan kemitraan yang saling menguntungkan antara industri dengan peternak dan koperasi menjadi kunci utama untuk memacu kapasitas produksi nasional," ujar Agus dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Kemenperin dalam momentum peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 yang digelar di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menjelaskan bahwa industri pengolahan susu memiliki peran strategis karena terhubung langsung dengan sektor peternakan rakyat dan berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Meski demikian, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 17,7 liter per kapita per tahun.

Menurut Putu, kondisi tersebut justru menjadi peluang besar bagi pertumbuhan industri susu nasional ke depan.

"Dengan adanya program pemerintah yang berorientasi pada peningkatan kualitas gizi masyarakat seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi peluang untuk memacu peningkatan konsumsi susu nasional," katanya.

Kemenperin mencatat sejumlah tantangan yang masih menghambat perkembangan industri susu nasional, antara lain: Produksi susu segar dalam negeri yang masih rendah, Skala usaha peternakan rakyat yang relatif kecil, Produktivitas sapi perah yang belum optimal, Keterbatasan integrasi sektor hulu dan hilir, Infrastruktur rantai dingin (cold chain) yang masih terbatas, Tantangan distribusi dan logistik.

Baca Artikel Lainnya

Menperin Agus Gumiwang Genjot Industri Susu Kelola Limbah Kemasan Pasca Lonjakan Permintaan Akibat Program MBG

MLBI Catat Kinerja Solid, Penjualan Bersih Naik 13% pada Awal 2026

Indomilk Tegaskan Komitmen Dukung Tumbuh Kembang Anak Melalui Edukasi dan Inovasi Nutrisi

Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai program untuk meningkatkan kapasitas produksi susu nasional sekaligus memperkuat daya saing industri.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas kemitraan antara industri pengolahan susu dengan peternak sapi perah serta meningkatkan kualitas susu segar dalam negeri melalui pemanfaatan teknologi digital di Tempat Penampungan Susu (TPS).

Selain itu, pemerintah juga menjalankan Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan Industri Makanan dan Minuman berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 40 Tahun 2024.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan program tersebut memberikan insentif berupa penggantian sebagian biaya pembelian mesin baru.

"Pemerintah memberikan fasilitas reimbursement hingga 35 persen atas pembelian mesin dan peralatan baru. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan industri pengolahan susu maupun koperasi dan kelompok peternak yang menjadi mitra industri," ujarnya.

Kemenperin menilai penguatan industri susu nasional tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Diperlukan kolaborasi yang erat antara peternak, koperasi, industri pengolahan susu, akademisi, hingga masyarakat.

Melalui momentum Hari Susu Nusantara 2026, pemerintah berharap ekosistem persusuan nasional semakin kuat, produktif, dan berkelanjutan sehingga mampu mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia.