Jakarta Kembali Bersinar, Minat Properti Menguat Saat Euforia IKN Mulai Mereda

Oleh : Hariyanto | Kamis, 18 Juni 2026 - 08:28 WIB

INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Jakarta kembali menunjukkan dominasinya sebagai pusat pasar properti nasional di tengah kepastian statusnya sebagai ibu kota negara. Sementara itu, kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur mulai memasuki fase normalisasi setelah beberapa tahun terdorong oleh ekspektasi tinggi terkait perpindahan pusat pemerintahan.

Laporan Flash Report Juni 2026 yang dirilis Rumah123 menunjukkan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 71/PUU-XXIV/2026 yang menegaskan Jakarta tetap berstatus ibu kota hingga terbitnya Keputusan Presiden mengenai pemindahan ibu kota menjadi salah satu faktor yang menopang kepercayaan pasar. Di sisi lain, pembangunan fisik IKN masih berlanjut berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025 dengan dukungan anggaran hingga 2028.

Data Rumah123 mencatat minat pencarian properti di Jakarta Pusat meningkat 1% secara tahunan (year on year/YoY), tertinggi secara nasional. Jakarta Selatan menyusul dengan kenaikan 0,6% YoY dan Jakarta Timur naik 0,2% YoY. Secara bulanan, Jakarta Barat menjadi wilayah dengan peningkatan pencarian terbesar di Jabodetabek sebesar 1,2% month on month (MoM), diikuti Jakarta Selatan 0,9% MoM dan Jakarta Utara 0,6% MoM.

Pada segmen hunian, Jakarta Pusat juga mencatat lonjakan harga paling tinggi untuk rumah dengan luas bangunan di bawah 60 meter persegi. Median harga rumah di segmen tersebut mencapai Rp900 juta atau melesat 47,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

VP Marketing Rumah123, Firman Pamungkas, mengatakan kekhawatiran bahwa perpindahan ibu kota akan menggerus daya tarik Jakarta tidak terbukti. Menurut dia, pusat aktivitas ekonomi nasional masih terkonsentrasi di ibu kota.

"Beberapa tahun terakhir muncul kekhawatiran bahwa perpindahan ibu kota akan mengurangi daya tarik Jakarta. Namun data menunjukkan bahwa Jakarta tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional. Selama aktivitas bisnis, lapangan kerja, dan infrastruktur utama masih terkonsentrasi di Jakarta, permintaan properti akan tetap terjaga," ujar Firman.

Ia menambahkan, pelaku pasar kini semakin rasional dalam mengambil keputusan investasi. "Kami melihat investor maupun pencari rumah semakin fokus pada faktor-faktor mendasar seperti konektivitas, aksesibilitas, kualitas infrastruktur, dan potensi pertumbuhan nilai properti jangka panjang. Keputusan pembelian tidak lagi semata-mata didorong oleh sentimen, tetapi oleh kebutuhan dan prospek investasi yang lebih terukur," katanya.

Baca Artikel Lainnya

Transportasi Massal Dorong Nilai Aset Perkantoran Jakarta Meningkat

Menteri Ara Bawa Kabar Gembira! Cicilan Rumah Subsidi Bakal Bisa Sampai 40 Tahun

Kantor Dekat MRT Kini Jadi Rebutan! Tingkat Okupansi Bisa Lebih Tinggi

Penguatan pasar Jakarta juga tercermin dari sektor perkantoran. Tingkat okupansi gedung perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta mencapai 76%, dengan tarif sewa dasar rata-rata Rp212.000 per meter persegi per bulan. Tidak adanya tambahan pasokan gedung baru pada kuartal I-2026 turut menjaga stabilitas harga sewa untuk dua tahun mendatang.

Di sisi lain, kawasan penyangga IKN mulai mengalami pendinginan. Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, mengungkapkan bahwa proporsi pencarian properti di Balikpapan justru turun 0,4% secara tahunan, seiring meningkatnya preferensi masyarakat terhadap wilayah yang memiliki kepastian aktivitas ekonomi dan lapangan kerja.

"Data kami menunjukkan adanya pergeseran preferensi yang cukup jelas. Ketika minat pencarian properti di sejumlah wilayah Jakarta meningkat, Balikpapan justru mencatat penurunan proporsi pencarian sebesar 0,4% secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin mempertimbangkan kepastian aktivitas ekonomi, akses lapangan kerja, dan kebutuhan hunian riil dalam mengambil keputusan properti," ujar Marisa.

Penundaan penerbitan Keputusan Presiden terkait pemindahan ibu kota turut mendorong sikap wait and see di kalangan investor. Kondisi tersebut tercermin dari penjualan rumah baru di Balikpapan yang merosot 55,6% secara tahunan pada kuartal I-2026. Penurunan paling dalam terjadi pada rumah tipe kecil yang anjlok 67%, disusul tipe besar 40,6% dan tipe menengah 19,1%.

Meski demikian, kualitas kredit properti di wilayah tersebut justru membaik. Sekitar 78% transaksi residensial di Balikpapan masih bergantung pada fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR), namun pasar dinilai mulai didominasi pembeli berbasis kebutuhan riil dibandingkan aktivitas spekulatif.

Sementara itu, Penajam Paser Utara masih mempertahankan daya tarik investasi jangka panjang. Sebanyak 86,2% pencari properti di wilayah tersebut masih memburu tanah kosong, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia 25-34 tahun dan kontribusi signifikan dari investor asal DKI Jakarta.

"Koridor IKN tidak kehilangan daya tariknya. Yang terjadi saat ini adalah pergeseran karakter pasar dari fase yang didominasi ekspektasi menuju fase yang lebih selektif dan berbasis kebutuhan riil. Tingginya minat terhadap tanah di Penajam Paser Utara menunjukkan bahwa investor masih melihat potensi jangka panjang kawasan tersebut seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah," kata Marisa.

Ke depan, Rumah123 memproyeksikan Jakarta dan IKN akan memainkan peran yang saling melengkapi. Jakarta diperkirakan tetap menjadi pasar properti terbesar dan paling matang di Indonesia, sedangkan kawasan IKN dan wilayah penyangganya akan berkembang sebagai pasar jangka panjang yang ditopang pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi regional secara bertahap.