Asaki: Industri Keramik RI Punya Resiliensi Tinggi dan Ekspansi Siap Jadi Pemain Global

Oleh : Ridwan | Senin, 25 Mei 2026 - 15:45 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta — Industri keramik nasional mulai bangkit setelah beberapa tahun menghadapi tekanan berat akibat praktik perdagangan tidak sehat dan serbuan produk impor murah dari China, India, serta Vietnam. Kebangkitan ini ditandai dengan meningkatnya utilisasi produksi dan ekspansi besar-besaran yang dilakukan pelaku industri dalam negeri.

Momentum kebangkitan tersebut akan ditunjukkan melalui ajang Keramika 2026 yang digelar bersama Panorama Media. Pameran industri keramik terbesar itu disebut menjadi simbol bangkitnya industri keramik nasional dengan semangat “Come Back Stronger and Rising More Elegant”.

“Keramika 2026 memiliki makna yang sangat dalam bagi kami. Ini menjadi bukti bahwa industri keramik Indonesia mampu bangkit kembali setelah menghadapi tekanan berat selama bertahun-tahun,” ujar Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto dalam konferensi pers, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, tekanan terbesar industri keramik nasional berasal dari praktik dumping produk keramik China, ditambah unfair trade dari India dan Vietnam. Selain itu, industri juga masih dibayangi persoalan pasokan gas dan tingginya harga energi domestik.

Meski demikian, ASAKI menilai kondisi industri mulai membaik. Pada 2021, utilisasi produksi keramik nasional sempat mencapai sekitar 75 persen. Namun angka tersebut turun drastis menjadi 66 persen pada 2024.

“Di tahun 2025 kami mulai comeback. Utilisasi kembali naik menjadi 73 persen. Hingga Mei 2026 utilisasi berada di level 72 persen dan kami optimistis target tahun ini bisa mencapai 73 sampai 75 persen,” katanya.

ASAKI juga mengungkapkan tren penurunan industri keramik dunia. Berdasarkan data World Ceramic Tile Forum (WCTF), produksi keramik global yang sempat mencapai 15,9 miliar meter persegi pada masa pandemi Covid-19 tahun 2021 turun menjadi 11,3 miliar meter persegi pada 2024.

Sementara itu, industri keramik Indonesia justru mulai menunjukkan ekspansi agresif. Dalam periode 2020-2024, kapasitas produksi nasional bertambah sekitar 73 juta meter persegi. Angka tersebut diperkirakan kembali meningkat hingga 90 juta meter persegi pada periode 2025-2029.

Dengan demikian, total ekspansi industri keramik nasional diproyeksikan mencapai sekitar 165 juta meter persegi.

“Kalau dibandingkan angka impor keramik tertinggi sepanjang sejarah Indonesia yang hanya sekitar 78 juta meter persegi pada 2024, artinya industri nasional sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa impor,” ujarnya.

Tidak hanya dari sisi kapasitas, ASAKI juga mengeklaim kualitas produk keramik nasional kini mampu bersaing dengan negara-negara maju seperti Italia, Spanyol, hingga Amerika Serikat.

Perubahan juga terlihat pada segmen pasar. Jika pada 2020 produk keramik kelas menengah atas hanya berkontribusi sekitar 23 persen dari total kapasitas industri, maka pada 2026 porsinya meningkat menjadi 37 persen.

Peningkatan tersebut didorong oleh ekspansi besar-besaran pada produk homogeneous tile dan slab premium yang menyasar pasar menengah atas.

“Industri keramik nasional saat ini tidak hanya bangkit, tetapi juga bergerak ke arah yang lebih elegan, lebih berkualitas, dan lebih inovatif,” katanya.

Keramika 2026 sendiri akan hadir dengan konsep baru melalui kolaborasi bersama Mega Build Indonesia di venue baru NICE PIK 2. Pameran ini diharapkan menjadi wadah integrasi seluruh ekosistem industri properti, konstruksi, arsitektur, desain interior, hingga bahan bangunan.

ASAKI menilai dukungan para arsitek dan desainer interior menjadi faktor penting bagi pertumbuhan industri keramik nasional yang masih sangat bergantung pada pasar domestik. Saat ini kontribusi ekspor keramik Indonesia masih berada di bawah 5 persen dari total produksi nasional.

“Industri keramik Indonesia memiliki resiliensi tinggi, adaptif, inovatif, ekspansif, dan siap menjadi global player,” tutupnya.