Era AI Memicu Ancaman Siber Baru, Ini Solusi Integrasi dari Multipolar Technology

Oleh : kormen barus | Senin, 22 Juni 2026 - 20:05 WIB

INDUSTRY.co.id, Jakarta–Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar bagi dunia usaha. Namun, di balik berbagai peluang tersebut, muncul tantangan baru yang tidak kalah besar: ancaman siber yang semakin canggih, cepat, dan sulit dideteksi.

Betapa tidak, kini serangan siber tidak lagi dilakukan secara manual, melainkan memanfaatkan AI untuk mempercepat eksploitasi kerentanan, mengotomatisasi serangan, hingga menciptakan teknik serangan yang semakin sulit dideteksi. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk membangun strategi keamanan yang tidak hanya kuat, tetapi juga lebih cerdas, adaptif, dan terintegrasi. Dalam Security Forum 2026 bertema “Are You Still in Control, or is Your Security Strategy Failing Behind?” yang diselenggarakan oleh perusahaan solution integrator terkemuka PT Multipolar Technology Tbk (IDX: MLPT) di Shangri-La Jakarta pada Rabu (10/6) lalu,

Division Head Network Presales Multipolar Technology Budianto Chandra mengungkapkan, di tengah meningkatnya ancaman siber, perusahaan-perusahaan perlu memastikan bahwa aset data, aplikasi, Application Programming Interface (API), dan infrastruktur digitalnya terlindungi secara menyeluruh. 

Menurut Budianto, perusahaan perlu membangun pertahanan siber secara menyeluruh, mulai dari perlindungan data, pengamanan aplikasi dan API, hingga modernisasi operasi keamanan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Multipolar Technology menghadirkan tiga solusi utama, yaitu IBM Guardium, F5 Distributed Cloud Services, dan Palo Alto Networks Cortex yang saling melengkapi dalam membangun pertahanan siber yang kuat di era AI. “Solusi-solusi ini penting mengingat bukan hanya perusahaan yang memanfaatkan AI, melainkan penjahat siber pun memanfaatkan kecanggihan AI untuk melakukan serangan,” katanya.

IBM Guardium membantu perusahaan melindungi aset digital yang paling berharga, yaitu data. Solusi ini memberikan visibilitas menyeluruh terhadap keberadaan data sensitif, siapa yang mengaksesnya, serta bagaimana data digunakan di seluruh lingkungan perusahaan. Dengan kemampuan pemantauan secara real time dan klasifikasi data otomatis, perusahaan dapat memperkuat tata kelola data, memenuhi kebutuhan kepatuhan, sekaligus mengurangi risiko kebocoran data yang semakin meningkat di era AI.

Seiring meningkatnya penggunaan aplikasi modern, microservices, dan multi-cloud, jumlah API dalam perusahaan tumbuh semakin pesat. Kondisi ini memperbesar risiko keamanan karena API kini menjadi salah satu target utama serangan siber. Untuk itu, F5 Distributed Cloud Services membantu perusahaan memperoleh visibilitas menyeluruh terhadap API yang dimiliki, memantau perilaku trafik secara berkelanjutan, serta memberikan perlindungan berbasis AI terhadap berbagai ancaman yang menyasar aplikasi dan API di berbagai lingkungan teknologi.

Baca Artikel Lainnya

IPO BACH 2026: Profil PT Bach Multi Global, Genset dan Infrastruktur Telekomunikasi

MHKI Tebar Dividen Rp9,9 Miliar

IPO JECX 2026: Profil Jakarta Eye Center, RS Mata Akreditasi JCI

“F5 Distributed Cloud Services menawarkan kemampuan API discovery yang komprehensif melalui code scanning, traffic-based discovery, dan crawler-based discovery, menjadikan seluruh API dapat teridentifikasi,” katanya.

Solusi ini dilengkapi dengan kemampuan analisis perilaku berbasis AI dan machine learning; deteksi anomali; validasi skema API; inspeksi lalu lintas secara berkelanjutan; serta perlindungan runtime, rate limiting, dan API protection rules.

Dengan pendekatan discover, monitor, dan secure, perusahaan dapat melindungi API secara konsisten di berbagai lingkungan teknologi. Di sisi lain, Palo Alto Cortex menghadirkan pendekatan Security Operations (SecOps) modern yang mengandalkan AI dan otomatisasi untuk mempercepat deteksi, investigasi, dan respons terhadap ancaman. Ketika tim keamanan dihadapkan pada ribuan peringatan setiap hari, kemampuan untuk memilah ancaman prioritas dan merespons secara cepat menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan bisnis.

Dengan dukungan AI, perusahaan dapat meningkatkan efektivitas operasi keamanan sekaligus mengurangi beban kerja manual yang selama ini menjadi tantangan utama Security Operations Center (SOC).

Kehadiran ketiga solusi tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber modern tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan tradisional. Budianto menegaskan bahwa keamanan siber kini bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan bagian dari strategi bisnis perusahaan. Seiring semakin luasnya pemanfaatan AI dan transformasi digital, perusahaan perlu memastikan bahwa perlindungan data, keamanan aplikasi dan API, serta operasi keamanan berjalan secara terintegrasi dan proaktif. "Di era AI, perusahaan tidak cukup hanya bereaksi ketika serangan terjadi.

Yang lebih penting adalah membangun ketahanan siber yang mampu mengantisipasi ancaman sejak awal. Karena itu, investasi pada strategi dan solusi keamanan yang tepat telah menjadi kebutuhan strategis bagi keberlangsungan bisnis," tutupnya.