Djakarta Indah: Ketika Sebuah Lagu Menjadi Arsip Perjalanan Kota

Oleh : Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono | Minggu, 21 Juni 2026 - 09:57 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menjelang Hari Ulang Tahun Kota Jakarta, saya menerima sebuah kiriman lagu lama berjudul Djakarta Indah yang dinyanyikan oleh Elly Kasim pada tahun 1969. 

Lagu itu diiringi rekaman visual Jakarta tempo dulu: jalan-jalan yang masih lengang, bangunan-bangunan yang belum menjulang tinggi, serta suasana kota yang terasa lebih sederhana dan manusiawi.

Mendengarkannya membawa kita pada sebuah pertanyaan yang menarik: bagaimana sebuah kota berkembang tanpa kehilangan jiwanya?

Jakarta hari ini adalah sebuah metropolitan dengan lebih dari 11 juta penduduk dan menjadi pusat ekonomi, politik, serta budaya Indonesia. 

Gedung-gedung pencakar langit, jalan tol bertingkat, MRT, LRT, dan berbagai infrastruktur modern menjadi simbol kemajuan yang dicapai selama puluhan tahun.

Namun di balik kemajuan tersebut, terdapat sejarah panjang yang sering terlupakan.

Lagu Djakarta Indah seolah menjadi kapsul waktu yang mengingatkan kita bahwa kota besar tidak lahir dalam semalam. 

Kota dibangun oleh generasi demi generasi. 

Jalan-jalan yang kita lalui hari ini pernah berupa tanah kosong. Kawasan bisnis yang sibuk dahulu adalah kampung-kampung yang sederhana. 

Gedung-gedung tinggi yang kini menjadi ikon kota berdiri di atas fondasi kerja keras banyak orang yang datang ke Jakarta membawa harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Tidak mengherankan bila lagu ini dibawakan oleh Elly Kasim, sosok yang dikenal sebagai “Ratu Pop Minang”. Sebagai anak bangsa yang berasal dari ranah Minang namun berkiprah di tingkat nasional, Elly Kasim merepresentasikan salah satu kekuatan utama Jakarta: kemampuannya menjadi rumah bagi siapa saja yang datang dengan mimpi dan semangat untuk berkarya.

Jakarta tidak dibangun oleh satu suku, satu agama, atau satu kelompok tertentu. Jakarta dibangun oleh seluruh Indonesia.

Keistimewaan Jakarta justru terletak pada kemampuannya menyatukan keberagaman tersebut menjadi energi pembangunan. Dari pedagang kecil hingga pengusaha besar, dari seniman hingga birokrat, dari pekerja informal hingga profesional kelas dunia, semuanya menjadi bagian dari cerita besar kota ini.

Ketika lagu Djakarta Indah direkam pada tahun 1969, Indonesia masih berada pada tahap awal pembangunan nasional. Infrastruktur modern masih sangat terbatas. 

Pendapatan per kapita Indonesia bahkan belum mencapai beberapa ratus dolar Amerika Serikat per tahun. Namun para pendiri bangsa memiliki keyakinan bahwa Indonesia suatu hari akan menjadi negara maju.

Baca Artikel Lainnya

Tanjung Lesung: Indonesia’s Next Premium Wellness & Longevity Destination

Menakar Kapasitas Pemimpin Desa di Tengah Efesiensi Anggaran 

President University Disiapkan Menjadi Megawema Indonesia di Era AI

Hari ini kita dapat melihat sebagian mimpi itu mulai terwujud.

Meski demikian, tantangan Jakarta ke depan tidak lagi sekadar membangun gedung, jalan, atau jembatan. Tantangan yang lebih besar adalah membangun kualitas hidup. Bagaimana menciptakan kota yang produktif sekaligus nyaman dihuni. 

Bagaimana menjaga lingkungan hidup di tengah pertumbuhan ekonomi. Bagaimana memastikan kemajuan teknologi tetap berpihak kepada manusia.

Di sinilah pentingnya memelihara memori kolektif kota.

Lagu-lagu seperti Djakarta Indah bukan sekadar hiburan. Ia adalah arsip budaya. Ia mengingatkan bahwa pembangunan bukan hanya soal beton dan baja, tetapi juga soal identitas, kenangan, dan rasa memiliki terhadap kota yang kita tinggali.

Kota yang besar bukanlah kota yang memiliki gedung paling tinggi, melainkan kota yang mampu menghormati masa lalunya sambil membangun masa depannya.

Menjelang ulang tahun Jakarta, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak, mendengarkan kembali lagu-lagu lama seperti Djakarta Indah, dan merenungkan perjalanan panjang yang telah dilalui kota ini.

Karena pada akhirnya, sebuah kota bukan hanya tempat kita bekerja dan tinggal. Sebuah kota adalah cermin perjalanan sebuah bangsa.

Selamat ulang tahun, Jakarta. Teruslah tumbuh, tetapi jangan pernah melupakan cerita yang membentukmu.