Kota Tua Jakarta: Dari Batavia Menuju Ibu Kota Pariwisata Nusantara
INDUSTRY.co.id - Ketika berbicara tentang masa depan pariwisata Indonesia, perhatian kita sering tertuju pada Bali, Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Raja Ampat, atau berbagai destinasi unggulan lainnya. Namun ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab: dari mana perjalanan wisata Nusantara itu dimulai?
Sebagian besar wisatawan mancanegara akan pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. Karena itu Jakarta sesungguhnya bukan hanya ibu kota negara, tetapi juga berpotensi menjadi Ibu Kota Pariwisata Nusantara, gerbang yang memperkenalkan keindahan seluruh Indonesia kepada dunia. Dan pusat dari visi tersebut adalah Kota Tua Jakarta.
Amsterdam di Timur
Tidak banyak yang menyadari bahwa Kota Tua Jakarta merupakan salah satu kawasan bersejarah paling berharga di Asia. Kawasan ini merupakan peninggalan Batavia, yang pada masanya dirancang sebagai miniatur Amsterdam di Asia. Jika Manhattan menjadi simbol New York, maka Kota Tua memiliki potensi menjadi simbol Jakarta.
Bangunan-bangunan bersejarah, kanal, museum, gudang tua, pelabuhan Sunda Kelapa, Pecinan, Kampung Arab, hingga jejak berbagai peradaban yang pernah bertemu di Nusantara terdapat dalam radius yang relatif dekat. Kota Tua bukan hanya aset Jakarta. Kota Tua adalah aset bangsa.
Sebuah Gagasan yang Pernah Dimulai
Pada tahun 2013, saya mendapat kehormatan untuk ikut mendorong gagasan revitalisasi Kota Tua Jakarta. Pada waktu itu saya mengajak berbagai pengembang besar Jakarta untuk bergabung dalam sebuah konsorsium revitalisasi Kota Tua, di antaranya Agung Sedayu Group, Ciputra Group, Agung Podomoro Group, Intiland, Sinar Mas Land, Murdaya Group, Saratoga, dan sejumlah pelaku usaha lainnya.
Gagasannya sederhana tetapi besar: membangun sebuah badan otorita yang mampu mengelola revitalisasi Kota Tua secara berkesinambungan selama 25 hingga 50 tahun. Sebab membangun Kota Tua bukan proyek lima tahun. Ini adalah proyek lintas generasi.
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Bapak Joko Widodo. Bahkan Menteri BUMN saat itu, Bapak Dahlan Iskan, menunjukkan dukungan yang luar biasa dengan membuka kemungkinan pemanfaatan sekitar 13 gedung milik BUMN yang menguasai hampir 40 persen aset heritage di kawasan Kota Tua. Semangat yang muncul saat itu adalah menjadikan Kota Tua sebagai kebanggaan nasional.
Momentum Baru di Era MRT
Hari ini, lebih dari satu dekade kemudian, Jakarta memiliki modal yang jauh lebih kuat. Jakarta kini memiliki MRT, LRT, Commuter Line, TransJakarta, jalan tol, serta konektivitas yang tidak pernah dimiliki sebelumnya. Keberadaan MRT membuka peluang besar bagi pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di sekitar Kota Tua.
Dengan pendekatan yang sensitif terhadap nilai sejarah, pembangunan baru dapat diarahkan pada bangunan-bangunan rendah, misalnya lima lantai ke bawah, yang tetap menjaga karakter heritage kawasan, hotel butik, apartemen servis, galeri seni, pusat kuliner, ruang kreatif, museum interaktif, pusat budaya, dan fasilitas wisata dapat tumbuh tanpa merusak identitas Kota Tua. Dengan demikian kawasan ini dapat hidup selama 24 jam dan menjadi destinasi kelas dunia.
Belajar dari Beijing
Beijing menerima lebih dari seratus juta kunjungan wisatawan setiap tahun, baik domestik maupun internasional. Tentu Jakarta memiliki karakter yang berbeda. Namun pelajarannya jelas: kota yang memiliki identitas sejarah kuat, akses transportasi yang baik, serta dukungan infrastruktur modern mampu menjadi magnet wisata dalam skala sangat besar.
Bayangkan apabila Jakarta suatu hari mampu menarik puluhan juta hingga mendekati seratus juta kunjungan wisatawan setiap tahun. Maka manfaatnya tidak berhenti di Jakarta. Wisatawan tersebut akan mengalir ke seluruh Nusantara. Mereka akan mengunjungi Bali, Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Raja Ampat, Mandalika, Tanjung Lesung, Ujung Kulon, Bromo, Toraja, dan ratusan destinasi lainnya. Jakarta akan menjadi pintu masuk, sementara seluruh Indonesia menikmati manfaat ekonominya.
Ekosistem yang Sudah Tersedia
Tidak banyak kota di Asia Tenggara yang memiliki ekosistem sekuat Jakarta. Jakarta didukung oleh Bandara Internasional Soekarno-Hatta, puluhan hotel bintang lima, MRT dan LRT, pelabuhan internasional, Jakarta International Expo Kemayoran, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, pusat perbelanjaan kelas dunia, dan kawasan bisnis modern. Bahkan wilayah metropolitan Jabodetabek turut memperkuat daya tarik tersebut.
ICE BSD telah menjadi salah satu pusat MICE terbesar di Asia Tenggara. President University Convention Center di Jababeka, berbagai fasilitas konferensi, hotel, rumah sakit internasional, dan pusat pendidikan akan menjadi bagian dari ekosistem yang saling mendukung.
Membangun Kebanggaan Nusantara
Di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Bapak Pramono Anung, saya berharap semangat revitalisasi Kota Tua dapat kembali dihidupkan. Bukan sekadar mempercantik bangunan tua, tetapi membangun sebuah kawasan yang mampu menceritakan perjalanan bangsa Indonesia kepada dunia. Kota Tua dapat menjadi tempat di mana sejarah bertemu masa depan, tempat di mana warisan budaya bertemu ekonomi kreatif, tempat di mana wisatawan pertama kali jatuh cinta kepada Indonesia.
Revitalisasi Kota Tua bukan proyek Jakarta semata. Ini adalah proyek kebanggaan nasional. Karena ketika Kota Tua bangkit, Jakarta akan menjadi etalase Indonesia. Dan ketika Jakarta menjadi gerbang pariwisata Nusantara, seluruh Indonesia akan ikut maju. Mari menjadikan Kota Tua sebagai kebanggaan rakyat Nusantara dan warisan bagi generasi mendatang.
Menurut saya, artikel ini dapat sekaligus menjadi bahan yang baik untuk disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata, Kementerian BUMN, dan para pengembang properti yang dahulu pernah terlibat dalam konsorsium revitalisasi Kota Tua.