Dari Penjaga Malam ke Produsen CNC Nasional, Kisah Dtech Engineering Menembus Industri Dunia

Oleh : Candra Mata | Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:19 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Inovasi besar tak selalu lahir dari laboratorium megah atau kampus bergengsi. Di sebuah kawasan industri di Salatiga, Jawa Tengah, sebuah perusahaan teknologi membuktikan bahwa mimpi, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko dapat menjadi fondasi lahirnya teknologi berkelas dunia.

Perusahaan itu adalah Dtech Engineering. Berdiri sejak 2009, perusahaan riset dan manufaktur tersebut kini dikenal sebagai produsen mesin Computer Numerical Control (CNC), teknologi yang menjadi jantung industri manufaktur modern.

Bagi sebagian orang, mesin CNC mungkin terdengar asing. Namun, hampir seluruh produk manufaktur modern—mulai dari komponen kendaraan hingga peralatan industri—melibatkan teknologi ini dalam proses produksinya.

“Kalau boleh dibilang, sembilan dari sepuluh produk manufaktur yang kita gunakan sehari-hari pasti melibatkan mesin CNC dalam proses pembuatannya. Karena itu, kami menyebutnya sebagai mother of machine,” ujar Direktur Utama PT Dtech Inovasi Indonesia, Fajar Budi Laksono.

Perjalanan menuju titik tersebut tidak berlangsung instan. Pendiri Dtech Engineering, Arfian Fuadi bersama sang adik, memulai usaha dari jasa desain keteknikan. 

Dengan modal terbatas, Arfian mencari klien menggunakan laptop hasil reparasi dan memanfaatkan akses internet gratis di sekitar Kantor Pos Salatiga, tempat ia bekerja sebagai penjaga malam.

Keterbatasan justru menjadi pemicu kreativitas. Berbekal kemampuan desain teknik, mereka berhasil mendapatkan kepercayaan dari klien internasional. 

Salah satu proyek yang pernah mereka kerjakan adalah desain pesawat ultraringan untuk kebutuhan pertanian di Amerika Serikat serta pesawat listrik yang digunakan dalam ekspedisi ke Kutub Utara.

Prestasi demi prestasi kemudian mengantarkan nama Dtech Engineering ke panggung internasional. Perusahaan ini bahkan memenangkan sejumlah kompetisi desain komponen pesawat yang diikuti akademisi dan peneliti dari berbagai negara.

“Waktu itu, kami hanya ingin membuktikan bahwa kemampuan insinyur Indonesia tidak kalah. Ternyata, kami justru menjadi juara pertama dan berhasil membuat desain komponen yang 84 persen lebih ringan dibanding desain konvensional,” kata Fajar.

Namun titik balik sesungguhnya datang pada 2018. Saat mempelajari data Global Competitiveness Index, tim Dtech menemukan fakta bahwa rendahnya kapasitas inovasi Indonesia berkaitan erat dengan keterbatasan infrastruktur manufaktur, termasuk jumlah mesin CNC yang tersedia.

Baca Artikel Lainnya

Tiga Tahun Berjalan, Program Mangrove NHM Ubah Pesisir Kao Menjadi Habitat Hijau Produktif

ISERAS Perkuat Posisi Hong Kong sebagai Hub Aeromedis dan Tanggap Darurat Asia

Transfer Uang ke Luar Negeri Kini Lebih Mudah, Cepat, dan Aman

Negara-negara dengan tingkat inovasi tinggi umumnya memiliki populasi mesin CNC yang besar. Jerman dan Amerika Serikat menjadi contoh bagaimana kapasitas manufaktur berkontribusi terhadap daya saing teknologi. 

Sementara Tiongkok, yang menguasai hampir separuh populasi mesin CNC dunia, mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif dalam skala masif.

Temuan itu mendorong Dtech Engineering mengambil langkah berbeda. Alih-alih hanya menjadi pengguna teknologi, mereka memutuskan menjadi pembuat teknologi.

Perusahaan tersebut mulai mengembangkan mesin CNC yang lebih terjangkau untuk UMKM dan institusi pendidikan vokasi di Indonesia. 

Langkah ini menjadi alternatif di tengah dominasi mesin impor dari Jepang dan Jerman yang harganya bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

“Kami sengaja membuat teknologi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Mesin harus bisa masuk pintu bengkel UMKM, bisa menggunakan listrik rumah tangga, mudah dirawat, dan menggunakan bahasa Indonesia,” jelas Fajar.

Pendekatan tersebut tidak berhenti pada produksi mesin. Dtech Engineering membangun ekosistem yang menghubungkan teknologi, pendidikan, dan kewirausahaan melalui Akademi Inovasi Indonesia.

Lewat program pelatihan gratis, generasi muda diajak belajar merancang hingga memproduksi produk berbasis teknologi. 

Dari program ini lahir berbagai inovasi yang berhasil masuk pasar komersial, salah satunya melalui merek suku cadang sepeda motor Arumi Motoparts.

Menariknya, produk-produk tersebut tidak hanya diterima di pasar domestik. Di Filipina, tren modifikasi sepeda motor yang menggunakan produk buatan Indonesia bahkan melahirkan istilah tersendiri.

“Di Filipina, bahkan muncul hashtag Indo Concept. Banyak pengguna sepeda motor di sana menggunakan produk asal Indonesia, termasuk produk kami,” ungkapnya.

Kini Dtech Engineering memproduksi jutaan komponen sepeda motor setiap tahun. Perusahaan tersebut juga menjadi pemasok komponen kursi kereta api bagi PT INKA yang digunakan pada sejumlah rangkaian kereta premium nasional, seperti New Argo Dwipangga, New Argo Lawu, dan Taksaka.

Di tengah ekspansi bisnisnya, perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi fokus penting. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan ini mencatat ratusan pengajuan desain industri, merek, dan paten sebagai upaya menjaga inovasi dari praktik peniruan yang semakin marak.

Bagi Dtech Engineering, perjalanan yang dimulai dari sebuah laptop bekas dan koneksi internet gratis kini telah berkembang menjadi misi yang lebih besar: membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi produsen teknologi, bukan sekadar pasar bagi produk asing.

“Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya bisa mengekspor bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi dan produk manufaktur yang berdaya saing dunia,” pungkas Fajar.