Indonesia dan Uzbekistan Bentuk Fondasi Baru Kerja Sama Dagang, Investasi, dan UKM

Oleh : Candra Mata | Rabu, 17 Juni 2026 - 14:00 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indonesia dan Uzbekistan sepakat memperkuat fondasi kerja sama ekonomi bilateral di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan berbagai tantangan perdagangan internasional. Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral tindak lanjut pembentukan Joint Working Group (JWG) tentang Kerja Sama Perdagangan dan Investasi yang berlangsung di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (16/6).

Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa kolaborasi dengan mitra strategis menjadi salah satu kunci untuk membangun ketahanan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Indonesia memandang Uzbekistan sebagai mitra strategis utama sekaligus pusat ekonomi penting di kawasan Asia Tengah. Pendalaman hubungan perdagangan dan investasi kedua negara akan membantu menciptakan arsitektur perdagangan yang lebih seimbang serta rantai nilai yang lebih tangguh,” ujar Roro.

Optimisme terhadap prospek hubungan ekonomi kedua negara didukung oleh tren perdagangan yang terus menunjukkan peningkatan. Nilai perdagangan Indonesia dan Uzbekistan pada 2025 mencapai USD 181,4 juta, meningkat hampir 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam lima tahun terakhir, omzet perdagangan bilateral tumbuh sekitar 49 persen.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas perkembangan Indonesia–Uzbekistan Free Trade Agreement (IU-FTA). Menurut Roro, peluncuran resmi negosiasi IU-FTA pada 2 Maret 2026 menjadi tonggak penting yang mencerminkan komitmen kuat kedua negara dalam memperluas kerja sama ekonomi.

Perjanjian tersebut dinilai memiliki nilai strategis karena akan menghubungkan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan salah satu ekonomi yang berkembang paling cepat di Asia Tengah. Selain itu, posisi Uzbekistan yang berada di jalur strategis Eurasia membuka peluang lebih besar bagi produk Indonesia untuk menjangkau pasar Asia Tengah dan kawasan sekitarnya.

Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi gerbang bagi Uzbekistan untuk mengakses pasar ASEAN yang dinamis dan terus berkembang.

Sebagai langkah lanjutan, Indonesia berharap pembahasan teknis mengenai Kerangka Acuan negosiasi dapat segera dimulai sebelum putaran resmi pertama IU-FTA digelar. Pemerintah Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk menyerahkan draf awal Kerangka Acuan sebagai dasar pembahasan.

Di sektor investasi, Indonesia menyambut positif meningkatnya minat investor Uzbekistan yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan signifikan. 

Baca Artikel Lainnya

VIVERE Dorong Sinergi Industri Arsitektur dan Interior melalui Business Impact Session

Perkuat Program CSR, Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal Gratis di Dua Lokasi

Perkuat Ekosistem Gaming, Logitech G Boyong G304 X SUPERLIGHT dan G316 X ke Indonesia

Pemerintah mendorong kedua negara untuk mempererat kolaborasi antara otoritas investasi dan pelaku usaha guna membuka peluang baru di berbagai sektor strategis.

Sektor yang menjadi fokus antara lain pertanian, pupuk, manufaktur, energi terbarukan, pariwisata, industri halal, hingga ekonomi digital.

Roro juga menekankan pentingnya pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai salah satu pilar kerja sama bilateral. Menurutnya, dukungan terhadap UKM perlu diperkuat agar mampu meningkatkan kapasitas dan daya saing di pasar global.

“Kolaborasi business-to-business merupakan mesin pertumbuhan yang mampu menerjemahkan komitmen pemerintah menjadi kerja sama bisnis yang konkret dan bernilai ekonomi,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Investasi, Industri, dan Perdagangan Uzbekistan, Ibrohim Ergashev, mengusulkan agar pertemuan perdana JWG tingkat pejabat senior segera digelar guna membahas berbagai agenda kerja sama secara lebih komprehensif, terutama di bidang perdagangan barang, jasa, dan investasi.

Ia juga menyampaikan dukungan terhadap penguatan kolaborasi dalam pemberdayaan UMKM, termasuk peningkatan kapasitas dan akses pasar bagi pelaku usaha perempuan di kedua negara.

Data perdagangan menunjukkan Uzbekistan saat ini merupakan tujuan ekspor nonmigas ke-103 dan sumber impor nonmigas ke-58 bagi Indonesia. Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 181,4 juta, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 72,6 juta dan impor sebesar USD 108,8 juta.

Produk ekspor utama Indonesia ke Uzbekistan meliputi margarin, minyak dan lemak hewani maupun nabati, minyak kelapa kopra, sabun, produk aktif permukaan organik, serta kertas dan karton tidak dilapisi. 

Sementara itu, Indonesia mengimpor pupuk berbasis kalium, pulp serat, aluminium tidak ditempa, mesin dan peralatan listrik, serta berbagai jenis kabel berinsulasi dari Uzbekistan.