Kisah Raeni, Anak Tukang Becak yang Kini Jadi Profesor Muda di Inggris

Oleh : Candra Mata | Minggu, 14 Juni 2026 - 09:45 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Siapa yang menyangka, perempuan yang pernah menjadi sorotan publik karena diantar sang ayah menggunakan becak saat wisuda kini berdiri sebagai akademisi di salah satu sekolah bisnis terkemuka di Inggris.

Namanya Raeni.

Tahun 2014, publik mengenalnya sebagai wisudawan terbaik Universitas Negeri Semarang (UNNES). Di tengah euforia kelulusan, perhatian banyak orang tertuju pada sosok ayahnya, Mugiyono, seorang pengayuh becak dari Kendal, Jawa Tengah. Dengan penghasilan yang kadang tak lebih dari Rp10.000 sehari, ia tetap mengayuh roda kehidupan demi memastikan putrinya bisa terus belajar.

Di balik foto yang viral itu, tersimpan cerita panjang tentang pengorbanan, tekad, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah nasib sebuah keluarga.

Raeni lahir pada tahun 1993 sebagai putri bungsu Mugiyono. Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya menyerah. Berbekal beasiswa Bidikmisi, ia menempuh pendidikan S1 Akuntansi di UNNES tanpa membebani orang tua. Hasilnya luar biasa. Ia lulus hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,96 dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik universitas.

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Sang ayah bahkan rela menjual uang pesangon pensiunnya untuk membantu melunasi utang pembelian laptop yang dibutuhkan putrinya selama kuliah. Pengorbanan sederhana yang kelak menjadi bagian penting dari perjalanan besar tersebut.

Momentum hidup Raeni berubah ketika kisahnya mendapat perhatian nasional. Setelah viral, ia bersama keluarganya diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Halim Perdanakusuma. Dalam pertemuan itu, sebuah kesempatan besar datang: beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi ke Inggris.

Mimpi yang selama ini hanya disimpan dalam diam akhirnya menemukan jalannya.

Dari Kendal, Raeni terbang ke Birmingham. Ia menyelesaikan pendidikan magister hanya dalam satu tahun dengan predikat With Distinction. Namun langkahnya tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan studi doktoral di universitas yang sama dan mendalami riset mengenai keuangan iklim global.

Disertasinya menyoroti bagaimana pendanaan iklim internasional dapat disalurkan secara lebih efektif dan adil kepada negara-negara yang membutuhkan, termasuk Indonesia. Penelitiannya berada di titik temu antara keuangan, keadilan sosial, dan masa depan lingkungan hidup dunia.

Hari ini, Dr. Raeni mengemban amanah sebagai Assistant Professor of Accounting di Birmingham Business School, Inggris. Ia mengajar mahasiswa sarjana, membimbing peneliti muda, dan terlibat dalam berbagai riset internasional.

Baca Artikel Lainnya

Mendag Busan Ajak Mahasiswa Jadi Eksportir Muda Lewat Program Campuspreneur 2026

SMA Santa Ursula Jakarta Juara Asia Timur di Kompetisi Global Your World 2026 Berkat Inisiatif Kurangi Sampah Plastik

Ortu Wajib Tahu! Sekolah di Vokasi Kemenperin: Anak Kendal Kerja di Hungaria Gaji Dolar, Anak Bandung Jadi GM

Sementara itu, di kampung halamannya di Kendal, sang ayah tak lagi harus mengayuh becak demi menyambung hidup. Buah dari perjuangan panjang itu telah menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi keluarga yang dulu hanya mengandalkan tenaga dan harapan.

Kisah Raeni adalah pengingat bahwa latar belakang bukanlah batas akhir. Dari jalanan kecil tempat becak beroperasi hingga ruang akademik kelas dunia, perjalanan itu dibangun oleh kerja keras, pendidikan, pengorbanan orang tua, dan keberanian untuk terus bermimpi.

Karena terkadang, jarak antara kehidupan sederhana dan pencapaian luar biasa bukan diukur oleh kilometer, melainkan oleh keteguhan langkah yang tak pernah berhenti. (cr ig raeni_raeni)