Kontekstualisasi Hari Raya Minggu Palma
INDUSTRY.co.id, Pada hari ini Minggu (29/3/2026) orang Katolik se-dunia merayakan Hari Raya Minggu Palma. Sebuah kenangan ketika Yesus masuk kota Yerusalem. Masuknya Yesus ke kota Yerusalem disambut dan dielu-elukan oleh umat. Semua umat menyambut Yesus seperti seorang raja.
Kebiasaan raja-raja pada masa itu adalah menunggang seekor kuda jantan. Sebuah gambaran keperkasaan seorang raja pada umumnya.
Kini di beberapa wilayah di belahan lain bumi ini, ada juga pastor yang memperagakan menunggang kuda pada hari raya Minggu Palma. Dengan kasula warna merah menyala, pastor berada di punggung kuda dengan gagah perkasa bak raja.
Mengapa tidak boleh menunggang kuda, dan mengapa hanya boleh diperagakan dengan menunggang keledai? Dengan kata lain, jika memang tidak ada keledai, maka tidak harus memperagakan dengan menunggang kuda.
Perlu Kontekstualisasi
Apa yang dimaksudkan dengan kontekstualisasi? Secara sederhana, kata "kontekstualisasi" berarti proses memahami atau menafsirkan sesuatu dalam konteks tertentu, yaitu dalam situasi, budaya, atau waktu tertentu.
Artinya, kita mencoba memahami sesuatu dengan mempertimbangkan latar belakang, situasi, dan kondisi yang mempengaruhi makna atau arti dari sesuatu itu.
Dalam konteks agama, kontekstualisasi berarti menafsirkan ajaran agama dalam konteks budaya, sosial, dan politik tertentu, sehingga ajaran agama itu dapat dipahami dan diterapkan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks Yesus menunggang keledai, kita perlu melakukan kontekstualisasi untuk memahami bahwa tindakan itu memiliki makna tertentu dalam budaya Yahudi pada masa itu.
Dengan berupaya menafsirkan kembali ajaran agama, dapat membantu kita memahami sesuatu dengan lebih baik dan lebih akurat dengan mempertimbangkan konteksnya.
Menunggang Keledai Simbol Kerendahan Hati dan Kesederhanaan
Yang menarik, seperti diceritakan dalam Injil, Yesus justru memilih seekor keledai betina sebagai tunggangannya ketika memasuki kota Yerusalem. Yesus menyuruh dua orang muridnya untuk menemukan seekor keledai yang sedang tertambat oleh pemiliknya.
Jikalau pemiliknya melarangnya, katakan bahwa Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya, jika acara sudah selesai.
Yesus tidak memilih kuda sebagai tunggangan seperti kebiasaan raja pada masa itu. Tetapi lebih memilih seekor keledai betina sebagai sarana tunggangannya menuju kota Yerusalem. Yesus ingin memperlihatkan kerendahan hati dan kesederhanaan.
Menunggang keledai adalah simbol kerendahan hati karena keledai dianggap sebagai hewan yang sederhana. Keledai juga sering digunakan sebagai hewan beban dan tidak memiliki status yang tinggi dalam masyarakat pada masa itu.
Dengan menunggang keledai, Yesus menunjukkan bahwa Dia tidak ingin dipandang sebagai raja yang kuat dan megah, melainkan sebagai Raja Damai yang sederhana dan rendah hati.
Yesus tidak ingin menggunakan kekuasaan atau kekuatan untuk memerintah, melainkan dengan kasih dan kerendahan hati.
Dalam konteks budaya Yahudi pada masa itu, Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan, yang datang dengan kerendahan hati dan kasih.
Menunggang keledai betina sekaligus menunjukkan kesederhanaan Yesus. Keledai adalah hewan yang sederhana dan tidak sekuat kuda, yang menunjukkan bahwa Yesus tidak ingin menunjukkan kekuatan atau kekuasaan, melainkan kesederhanaan dan kerendahan hati.
Rendah hati dan sederhana adalah dua sifat yang menunjukkan kesediaan untuk tidak memprioritaskan kepentingan diri sendiri dan tidak mencari pujian atau pengakuan dari orang lain.
Pada saat yang sama Yesus hendak menunjukkan kesadaran akan keterbatasan diri dan tidak merasa lebih baik dari orang lain. Meskipun semua orang memandang Yesus tidak hanya sebagai manusia tetapi juga Tuhan.
Kerendahan hati dan kesederhanaan Yesus sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, yaitu Kitab Zakharia 9:9, yang mengatakan bahwa Raja Israel akan datang dengan menunggang keledai, bukan kuda.
Kuda adalah lambang keperkasaan raja berlatarbelakang militer. Yesus tidak ingin dipandang sebagai raja militer yang kuat dan perkasa, melainkan sebagai Raja Damai yang membawa keselamatan dan perdamaian.
Yesus menunjukkan bahwa misi-Nya adalah untuk melayani, bukan untuk memerintah dengan kekuatan atau kekuasaan.
Implementasi
Yesus memberikan pesan moral kepada kita untuk menunjukkan sifat sederhana dan rendah hati.
Sifat sederhana dapat diimplementasikan dengan gaya hidup dan perilaku sehari-hari, seperti tidak memerlukan banyak hal, tidak suka kemewahan, dan tidak mencari perhatian.
Sifat rendah hati dapat diimplementasikan dengan tidak merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa berhak mendapatkan sesuatu, dan tidak membanggakan diri sendiri.
Penulis seorang awam katolik, tinggal di Jakarta