Visa Perkenalkan Strategi Hadapi Kompleksitas Pembayaran Digital di Indonesia

Oleh : Candra Mata | Jumat, 05 Juni 2026 - 09:54 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Transformasi pembayaran digital di Indonesia memasuki babak baru. Pertumbuhan transaksi yang terus melesat kini dibarengi dengan meningkatnya kebutuhan akan sistem yang mampu bekerja secara real-time, terhubung lintas platform, sekaligus tangguh menghadapi risiko yang semakin kompleks.

Gambaran tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Visa Indonesia Client Forum 2026 yang digelar di Bali. Forum yang mempertemukan pemimpin industri perbankan, merchant, fintech, dan berbagai pelaku ekosistem pembayaran itu membahas arah perkembangan industri pembayaran digital Indonesia di tengah percepatan ekonomi digital.

Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi pembayaran digital pada triwulan I-2026 mencapai 14,82 miliar transaksi atau tumbuh 37,69 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan tersebut menandai semakin besarnya peran pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun, seiring meningkatnya volume transaksi, tantangan yang dihadapi pelaku industri juga berkembang. Sistem pembayaran kini beroperasi melalui beragam jaringan, platform, dan kanal interaksi yang saling terkoneksi dalam waktu bersamaan. Kondisi ini menuntut pelaku usaha untuk mampu mengelola transaksi lintas sistem sekaligus mengambil keputusan terkait risiko dan persetujuan transaksi secara real-time.

Bagi dunia usaha, kebutuhan saat ini tidak lagi sekadar mengadopsi teknologi pembayaran digital. Yang menjadi perhatian utama adalah memastikan infrastruktur yang digunakan mampu menangani kompleksitas transaksi dalam skala besar secara konsisten, mulai dari berbagai kanal pembayaran hingga pengelolaan risiko yang semakin dinamis.

“Seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, fokus kami adalah mendukung pertumbuhan tersebut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan memperkuat kepercayaan di seluruh ekosistem layanan keuangan dan pembayaran digital, sehingga pelaku usaha dapat berkembang dengan lebih percaya diri dan masyarakat dapat bertransaksi dengan aman. Ketika sistem pembayaran berjalan secara andal dalam skala besar, hal tersebut akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan yang lebih luas di Indonesia,” ujar Vira Widiyasari, Country Manager, Visa Indonesia.

Salah satu tantangan yang paling menonjol dalam ekosistem pembayaran saat ini adalah meningkatnya risiko fraud. Meski berbagai lapisan keamanan terus diperkuat, pola kejahatan finansial juga terus berevolusi, terutama di pasar yang semakin didominasi transaksi berbasis ponsel dan layanan real-time.

Berdasarkan laporan Spring 2026 Biannual Threats Visa yang disusun dari pemantauan jaringan global Visa, pelaku kejahatan kini semakin banyak memanfaatkan pendekatan social engineering berbasis kecerdasan buatan (AI). Alih-alih menyerang sistem teknologi secara langsung, mereka lebih sering mengeksploitasi faktor manusia melalui berbagai bentuk manipulasi digital.

Dalam periode Juli hingga Desember 2025, Visa mengidentifikasi hampir US$1 miliar aktivitas yang terkait dengan scam. Angka tersebut menjadikan scam sebagai kategori fraud pembayaran konsumen terbesar selama periode tersebut.

Di sisi lain, laporan yang sama menunjukkan adanya hasil positif dari penerapan teknologi keamanan yang lebih kuat. Fraud yang melibatkan token perangkat tercatat turun 9,6 persen secara tahunan, mencerminkan semakin efektifnya perlindungan di tingkat sistem pembayaran.

Perubahan lanskap risiko ini turut memengaruhi ekspektasi pelaku usaha terhadap mitra pembayaran mereka. Keandalan jaringan tetap menjadi faktor penting, namun kini perusahaan juga membutuhkan kemampuan yang lebih luas untuk mengelola performa pembayaran, pengalaman pelanggan, serta risiko secara terpadu di berbagai kanal transaksi.

Menjawab kebutuhan tersebut, Visa menghadirkan Visa Value Added Services (VAS), yang dirancang untuk mendukung kebutuhan bisnis di luar fungsi pemrosesan transaksi. Solusi ini membantu bank dan merchant mengelola fraud, meningkatkan kinerja pembayaran, sekaligus memperoleh wawasan pelanggan secara lebih menyeluruh sepanjang siklus pembayaran.

Kemampuan manajemen risiko dan fraud berbasis real-time yang dimiliki Visa memungkinkan identifikasi aktivitas mencurigakan saat transaksi berlangsung. Teknologi tersebut juga membantu mengurangi penolakan terhadap transaksi yang sebenarnya sah, sehingga pengalaman pembayaran dapat tetap berjalan lancar.

Selain aspek keamanan, VAS juga mendukung optimalisasi kinerja pembayaran dengan membantu perusahaan mengidentifikasi titik-titik yang menyebabkan kegagalan atau perlambatan transaksi. Analisis terhadap pola otorisasi, performa issuer maupun merchant, serta efisiensi routing pembayaran memungkinkan peningkatan tingkat persetujuan transaksi sehingga lebih banyak pembayaran sah dapat berhasil diproses pada percobaan pertama.

Visa juga menghadirkan kemampuan analitik yang memberikan visibilitas lebih baik terhadap perilaku transaksi dan tren pembayaran. Melalui laporan dan analisis yang disesuaikan, perusahaan dapat mengidentifikasi risiko maupun peluang yang muncul, sekaligus menyesuaikan strategi pembayaran, kebijakan risiko, dan pengalaman pelanggan sesuai perkembangan perilaku konsumen.

Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, kemampuan mengelola kompleksitas menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing pelaku industri. Fondasi teknologi yang kuat, kemampuan eksekusi dalam skala besar, serta adaptasi yang cepat terhadap perubahan ekosistem pembayaran dinilai akan menjadi kunci pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan.