Menperin Agus Blak-blakan Bongkar Strategi IKM Kerajinan Tembus Pasar Global

Oleh : Ridwan | Senin, 04 Mei 2026 - 10:15 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sektor industri kerajinan nasional terus menunjukkan performa menjanjikan di tengah dinamika ekonomi global. Tak hanya menjadi penyumbang devisa, sektor ini juga terbukti menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, menjadikannya salah satu tulang punggung ekonomi berbasis kerakyatan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun tak tinggal diam. Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA), berbagai langkah strategis terus digencarkan untuk mendongkrak daya saing pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan, khususnya di daerah.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, perubahan selera pasar menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi pelaku industri kerajinan.

“Konsumen kini cenderung mencari produk yang spesifik, unik, namun tetap fungsional dan memiliki nilai tambah. Di sinilah diversifikasi produk menjadi kunci agar produk kerajinan Indonesia semakin kompetitif,” ujar Agus dalam keterangannya.

Menurut Agus, diversifikasi produk bukan sekadar menambah varian, tetapi strategi memperluas pasar tanpa harus membangun lini produksi baru dari nol. Dengan memanfaatkan bahan baku dan proses produksi yang serupa, pelaku IKM dapat menjangkau segmen pasar yang lebih luas secara efisien.

Langkah ini dinilai krusial di tengah persaingan global yang semakin ketat dan cepat berubah. Tanpa inovasi, produk kerajinan berisiko tertinggal, meski memiliki nilai budaya tinggi.

Data Kemenperin menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, nilai ekspor industri kerajinan mencapai USD 806,63 juta, tumbuh 15,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 698,62 juta.

Kinerja ini berlanjut pada awal 2026. Pada Januari saja, ekspor sudah menyentuh USD 52,38 juta atau naik 19,49 persen secara tahunan (year-on-year).

“Potensi ini masih sangat besar untuk dioptimalkan. Kuncinya ada pada inovasi berkelanjutan,” kata Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita.

Sebagai bagian dari upaya akselerasi, Ditjen IKMA menggelar Pendampingan Teknis Diversifikasi Produk di Kabupaten Cirebon pada 14–17 April 2026. Program ini merupakan rangkaian menuju HUT Dekranas 2026.

Cirebon dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan unggulan, mulai dari rotan, kayu, hingga batik.

Namun, menurut Reni, potensi besar saja tidak cukup. Pelaku IKM tetap membutuhkan pendampingan agar mampu membaca tren dan berani berinovasi.

“Pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) juga bisa membantu pelaku usaha membaca tren pasar dan menciptakan ide produk baru,” ujarnya.

Selain inovasi produk, strategi pemasaran juga mengalami pergeseran besar. Kemenperin mendorong pelaku IKM untuk memaksimalkan platform digital agar mampu menembus pasar internasional tanpa batas geografis.

Program pendukung pun terus diperluas, mulai dari pelatihan, fasilitasi pameran, sertifikasi, hingga program e-smart IKM yang fokus pada digitalisasi bisnis.

Dampak pendampingan mulai terlihat. Salah satu IKM binaan di Cirebon yang memproduksi merchandise berbahan kulit kini berhasil menembus pasar ekspor hingga Rusia.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kombinasi inovasi produk, pendampingan intensif, dan strategi pemasaran yang tepat mampu membuka akses global bagi pelaku IKM.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan berharap dukungan pemerintah daerah terus diperkuat agar ekosistem industri kerajinan semakin kokoh.

Hal ini juga sejalan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Cirebon Nomor 1 Tahun 2026 yang menetapkan tiga sektor unggulan: industri makanan olahan, kerajinan (rotan, kayu, bambu), serta fesyen dan batik.

“Pendampingan berkelanjutan terbukti efektif mendorong IKM naik kelas dan menembus pasar ekspor,” pungkas Budi.

Meski tren positif terus berlanjut, tantangan tetap ada. Persaingan global, perubahan selera konsumen, hingga kebutuhan adaptasi teknologi menjadi pekerjaan rumah bagi pelaku industri.

Namun dengan strategi yang tepat mulai dari diversifikasi produk, pemanfaatan AI, hingga digitalisasi pemasaran industri kerajinan Indonesia dinilai punya peluang besar untuk terus tumbuh dan memperkuat posisinya di pasar global.