Prodia Tebar Dividen Jumbo 70% Laba 2025, Rombak Direksi demi Akselerasi Precision Medicine
INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Emiten pelopor laboratorium diagnostik di Indonesia, PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA), memutuskan untuk mempertebal apresiasi kepada pemegang saham melalui pembagian dividen tunai tahun buku 2025. Langkah ini diambil di tengah momentum transformasi perusahaan menuju penguatan layanan kesehatan berbasis precision medicine dan ekspansi pasar internasional.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 23 April 2026, pemegang saham menyetujui rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) sebesar 70% dari laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Angka ini mencatatkan kenaikan dibandingkan periode sebelumnya, dengan total nilai mencapai lebih dari Rp144 miliar atau setara Rp162,68 per lembar saham.
Direktur Utama Prodia yang baru ditetapkan, Liana Kuswandi, menegaskan bahwa keputusan ini merupakan bentuk komitmen perseroan dalam menjaga kepercayaan investor sembari memperkuat struktur internal. Menurutnya, hasil RUPST ini adalah langkah strategis untuk menciptakan organisasi yang lebih efisien dan selaras dengan arah bisnis ke depan.
"Hadirnya wajah baru serta penyesuaian dalam organisasi diharapkan dapat membawa Perseroan lebih lincah dalam menghadapi dinamika bisnis yang semakin menantang. Dengan tata kelola perusahaan yang transparan dan akuntabel, Perseroan optimis dapat terus menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham serta menjaga kinerja yang sehat dan berkelanjutan ke depan," ujar Liana.
Tahun 2025 menjadi fondasi krusial bagi PRDA. Perseroan tercatat meluncurkan 38 tes baru dan menghadirkan Next Generation Laboratory melalui Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC) by Spectrometry. Di sisi ekspansi fisik, jaringan Prodia kini telah mencapai 402 outlet di 34 provinsi, bahkan merambah kemitraan internasional hingga ke Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste.
Liana Kuswandi menambahkan bahwa tahun 2025 mencerminkan ketahanan perseroan di tengah dinamika ekonomi global. Salah satu langkah strategis yang menjadi sorotan adalah penetrasi ke lini terapi regeneratif melalui pembelian 30% saham PT Prodia Stemcell Indonesia (ProSTEM). Memasuki 2026, Prodia berencana memperluas pengembangan precision medicine melalui klinik spesialis seperti Stem Cell Clinic serta Autoimmune & Longevity Clinic.
Di sisi finansial dan operasional, Marina Eka Amalia yang kini menjabat sebagai Direktur Keuangan & Keberlanjutan, menekankan pentingnya pengelolaan investasi yang terarah untuk menjaga profitabilitas jangka panjang. Ia menyoroti lonjakan pengguna aplikasi U by Prodia yang mencapai lebih dari 70% secara tahunan (YoY) sebagai motor pertumbuhan dari sisi digital.
"Kami akan fokus pada layanan berbasis digital serta mengoptimalkan competitive advantages yang telah kami miliki dengan lebih agresif dan terukur. Keunggulan Prodia dalam pengembangan tes-tes advanced berbasis precision medicine juga menjadi diferensiasi penting yang memperkuat daya saing Perseroan sekaligus mendorong pertumbuhan pendapatan," kata Marina.
Sejalan dengan itu, Direktur Komersial & Kemitraan, Indriyanti Rafi Sukmawati, memaparkan strategi untuk mengoptimalkan aset yang sudah ada melalui rehabilitasi sejumlah cabang dan peningkatan kapabilitas layanan. Indri optimistis bahwa kolaborasi dengan mitra strategis akan membuka peluang pertumbuhan baru, terutama melalui layanan diagnostik klinis kompleks seperti pemeriksaan genomik dan multiomics yang kini kian diminati pasar.
Perubahan susunan pengurus juga menjadi poin krusial dalam RUPST kali ini. Nama-nama lama seperti Andi Widjaja masih menempati posisi Komisaris Utama, namun jabatan Direktur Utama kini resmi dipegang oleh Liana Kuswandi, didukung oleh jajaran direktur yang membawahi bidang keuangan, komersial, solusi terintegrasi, hingga pengembangan SDM. Dengan formasi baru ini, PRDA memposisikan diri untuk memimpin pasar laboratorium diagnostik yang semakin kompetitif di tanah air.