MOLINAS, Langkah Besar Indonesia Membangun Ekosistem Motor Listrik

Oleh : Candra Mata | Kamis, 13 Agustus 2026 - 22:08 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Indonesia mulai menapaki babak baru dalam pengembangan kendaraan listrik melalui Program Motor Listrik Nasional (MOLINAS). 

Program yang digagas Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersama PT Len Industri ini dirancang bukan sekadar menghadirkan sebuah merek atau model kendaraan baru, melainkan membangun ekosistem industri motor listrik secara terintegrasi.

Konsep tersebut menempatkan MOLINAS sebagai bagian dari strategi memperkuat industri nasional sekaligus mendorong pergeseran penggunaan energi menuju sumber yang lebih bersih. 

Dari manufaktur, komponen, baterai, hingga pembiayaan dan layanan purnajual, seluruh rantai ekosistem diarahkan untuk saling terhubung.

PT Len Industri mendapat peran sebagai Lead Integrator yang mengorkestrasi kolaborasi para pemangku kepentingan. Peran ini dijalankan dalam ekosistem Holding Defend ID di bawah Kementerian Pertahanan.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan MOLINAS mencakup sejumlah sektor utama, mulai dari industri dan manufaktur, komponen serta baterai, infrastruktur pengisian daya dan battery swapping, pembiayaan, distribusi, layanan purnajual, hingga strategi penyerapan pasar.

Target Produksi dan TKDN

Dari sisi kapasitas, MOLINAS diproyeksikan mampu mencapai produksi 100.000 unit motor listrik per tahun. Pada tahap awal, target produksi pada 2026 ditetapkan sebesar 75.000 unit.

Program ini juga membawa agenda penguatan industri dalam negeri melalui penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40 persen, dengan target peningkatan hingga 60 persen.

Peningkatan TKDN menjadi salah satu bagian penting dari upaya membangun rantai pasok nasional. Semakin besar porsi komponen yang diproduksi di dalam negeri, semakin besar pula nilai tambah ekonomi yang dapat ditahan di dalam negeri.

Potensi Ekonomi Rp150 Triliun

Skala pengembangan MOLINAS diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Dalam periode 2026–2031, potensi ekonomi dari pengembangan program ini diperkirakan mencapai Rp150 triliun.

Program tersebut juga diproyeksikan menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja, sekaligus membuka ruang pertumbuhan bagi industri komponen, baterai, teknologi, distribusi, pembiayaan, hingga jasa pendukung kendaraan listrik.

Dari sisi energi, pengembangan kendaraan listrik diharapkan ikut mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. 

Baca Artikel Lainnya

Hongqi Resmi Masuk Indonesia, Bidik Pasar SUV Listrik Premium

Prabowo Dorong Danantara Perkuat Industri Motor Listrik Nasional

MoLiNas Resmi Mengaspal, Menperin Agus Gumiwang Bidik RI Jadi Raja Motor Listrik

Program ini diperkirakan berpotensi menghasilkan penghematan subsidi BBM sekaligus memperbaiki keseimbangan neraca dagang energi hingga Rp82,2 triliun.

Sementara untuk periode 2027–2037, pengurangan ketergantungan terhadap impor minyak mentah dan peningkatan neraca perdagangan diproyeksikan mencapai sekitar Rp45 triliun.

Pasar Motor Listrik Masih Terbuka

Optimisme terhadap MOLINAS juga ditopang oleh besarnya potensi pasar domestik. Permintaan motor listrik pada 2028 diprediksi mencapai sekitar 1,5 juta unit.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar kendaraan roda dua listrik masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. 

Target produksi MOLINAS sebesar 75.000 unit pada 2026 pun menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas produksi sekaligus memperkuat penerimaan pasar terhadap kendaraan listrik buatan dalam negeri.

Tantangannya bukan hanya memproduksi kendaraan, tetapi memastikan konsumen memiliki akses terhadap pembiayaan, infrastruktur pengisian daya, layanan purnajual, ketersediaan baterai, serta jaringan distribusi yang memadai.

Dengan demikian, keberhasilan MOLINAS akan sangat bergantung pada kemampuan seluruh mata rantai ekosistem untuk tumbuh secara bersamaan.

Bukan Sekadar Kendaraan Listrik 

Bagi pemerintah, elektrifikasi transportasi merupakan bagian dari agenda yang lebih luas. Pergeseran dari kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik dipandang bukan hanya sebagai langkah pengurangan emisi, tetapi juga sebagai strategi memperkuat ketahanan energi dan kemandirian industri.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah tersebut:

“Dengan motor dan mobil listrik, dengan bus listrik, dengan traktor listrik, dengan sebanyak mungkin alat-alat kita menggunakan listrik sebagai energi utama, kita akan lebih aman, kita akan lebih sejahtera.”

Melalui MOLINAS, ambisi tersebut diterjemahkan ke dalam pembangunan ekosistem yang mencakup industri dari hulu hingga hilir. 

Jika target produksi, peningkatan TKDN, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan pasar dapat berjalan sesuai rencana, program ini berpotensi menjadi salah satu pijakan penting Indonesia dalam membangun industri mobilitas listrik yang lebih hijau, mandiri, dan berdaya saing.