Industri RI–Belarus Makin Mesra! Pabrik Kendaraan Tambang hingga Investasi Raksasa Siap Masuk Indonesia
INDUSTRY.co.id - Jakarta – Hubungan industri antara Indonesia dan Belarus memasuki babak baru yang dinilai berpotensi mengubah peta manufaktur nasional.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kedua negara mempercepat langkah strategis untuk memperkuat investasi, transfer teknologi, hingga membangun rantai pasok industri yang lebih kuat.
Fokus besar kerja sama ini mengarah pada sektor kendaraan tambang, kendaraan kargo, alat berat, hingga mesin pertanian yang selama ini menjadi kekuatan utama Belarus. Indonesia melihat peluang tersebut sebagai dorongan penting dalam mempercepat transformasi industri nasional.
Keseriusan kedua negara terlihat dalam pertemuan bilateral antara Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Tri Supondy dengan Menteri Perindustrian Republik Belarus Andrei Kuznetsov. Pertemuan berlangsung di sela agenda BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 di Xiamen, China, akhir Mei lalu.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, penguatan kerja sama harus menghasilkan langkah nyata yang memberikan manfaat langsung bagi kedua negara.
"Penguatan kerja sama industri perlu diarahkan pada kolaborasi yang konkret dan saling menguntungkan guna mendukung pengembangan sektor manufaktur kedua negara," kata Agus dalam keterangan resmi di Jakarta.
Salah satu isu yang paling menyita perhatian adalah peluang pembangunan fasilitas perakitan kendaraan Belarus di Indonesia. Langkah ini membuka potensi investasi baru sekaligus memperkuat industri kendaraan berat di dalam negeri.
Tri Supondy menyebut kerja sama yang sedang dijajaki tidak sekadar soal perdagangan, tetapi juga menyasar transfer teknologi dan penguatan industri nasional.
"Kami melihat peluang besar untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret melalui pengembangan investasi, kemitraan industri, transfer teknologi, hingga penguatan rantai pasok yang memberikan manfaat bagi kedua negara," ujarnya.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Belarus sendiri menunjukkan tren yang terus meningkat. Pada 2025, nilai perdagangan nonmigas kedua negara tercatat mencapai USD 221,3 juta.
Yang paling mencolok, ekspor Indonesia ke Belarus melonjak tajam hingga 82,57%, atau mencapai USD 79,6 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
Produk unggulan Indonesia yang masuk ke Belarus antara lain, Komponen elektronik, Produk sawit, Hasil olahan perikanan, Tekstil, Kopi, kakao, dan teh.
Baca Artikel Lainnya
Asia Economic Summit 2026 Tegaskan Posisi Indonesia sebagai Motor Ekonomi Digital Asia Tenggara
Menko Airlangga Dorong Ratifikasi IEU-CEPA, Jerman Siap Perluas Investasi dan Transfer Teknologi
Indonesia-Belarus Perkuat Aliansi Industri, Bidik Investasi Alat Berat dan Kendaraan Tambang
Sementara Indonesia mengimpor pupuk, bahan kimia, alat ukur, traktor, serta mesin pertanian dari Belarus.
Tak hanya itu, kedua negara juga tengah mempercepat penyelesaian Memorandum of Understanding (MoU) on Industrial Cooperation yang akan menjadi payung kerja sama jangka panjang.
MoU tersebut akan mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari kendaraan listrik (EV), otomotif, alat berat, industri hijau, farmasi, industri digital, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Kesepakatan itu ditargetkan siap ditandatangani saat kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia dalam waktu mendatang.
Di sisi lain, implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) juga menjadi sorotan. Perjanjian yang ditandatangani pada Desember 2025 itu akan memberikan tarif preferensial bagi lebih dari 90% produk perdagangan antara Indonesia dan negara anggota EAEU, termasuk Belarus.
Jika proses ratifikasi berjalan mulus, peluang ekspor Indonesia ke kawasan Eurasia diprediksi akan terbuka semakin lebar.
Momentum ini juga diperkuat dengan keikutsertaan Indonesia sebagai Partner Country pada Pameran Industri Internasional INNOPROM 2026 di Rusia.
Ajang tersebut dipandang sebagai panggung besar bagi Indonesia untuk menunjukkan kekuatan industri manufaktur nasional sekaligus membuka pintu investasi baru dari Belarus dan kawasan Eurasia.