Menperin Agus Gumiwang Bidik Tajikistan Jadi Gerbang Baru Ekspor Industri RI
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah Indonesia terus membuka pasar baru bagi produk manufaktur nasional. Kali ini, Tajikistan dilirik sebagai mitra strategis sekaligus pintu masuk untuk memperluas penetrasi industri Indonesia ke kawasan Asia Tengah dan negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS).
Peluang tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Republik Tajikistan, Aziz Nazar, di sela ajang BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 di Xiamen, China.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kerja sama industri antarnegara menjadi langkah penting untuk memperluas pasar, memperkuat investasi, dan mendorong inovasi di sektor manufaktur.
"Kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat untuk memacu inovasi, memperluas akses pasar, serta menciptakan peluang investasi yang memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak," ujar Agus dalam keterangan resminya di Jakarta.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Tajikistan yang telah berlangsung selama 32 tahun dinilai memiliki potensi besar untuk ditingkatkan. Indonesia memiliki kekuatan di sektor otomotif, elektronik, tekstil, hingga industri pengolahan berbasis sumber daya alam. Sementara Tajikistan tengah fokus mengembangkan industri mineral, aluminium, tekstil, dan teknologi baru.
Kombinasi tersebut dinilai saling melengkapi dan dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Dalam pertemuan itu, Indonesia menegaskan posisi Tajikistan sebagai mitra penting untuk memperluas jangkauan produk manufaktur nasional ke kawasan CIS yang selama ini belum tergarap optimal.
"Kami terus meningkatkan peluang terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan melalui perluasan jejaring industri, peningkatan investasi, serta pengembangan kerja sama yang mampu memberikan nilai tambah bagi kedua negara," kata Tri Supondy.
Meski nilai perdagangan kedua negara masih relatif kecil, tren pertumbuhannya menunjukkan arah positif. Data Kementerian Perindustrian mencatat nilai perdagangan Indonesia-Tajikistan meningkat dari US$ 1,7 juta pada 2021 menjadi US$ 1,9 juta pada 2025, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor nonmigas.
Baca Artikel Lainnya
Tips Ekspor Barang ke Luar Negeri, Pemula Wajib Tahu!
Cara Meningkatkan Ekspor Barang ke Luar Negeri
Menperin Agus Gumiwang Gandeng UNIDO Genjot Industri Hijau hingga Hilirisasi Nikel
Peningkatan tersebut menjadi sinyal masih terbukanya peluang ekspansi perdagangan dan investasi yang lebih besar di masa depan.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, kedua negara juga membahas tindak lanjut rencana Nota Kesepahaman (MoU) bidang industri yang sebelumnya diinisiasi oleh pemerintah Tajikistan.
Sejumlah sektor strategis yang masuk dalam pembahasan meliputi: Pengembangan rantai pasok mineral kritis, Industri farmasi dan alat kesehatan, Penguatan ekosistem industri halal, Investasi manufaktur berbasis teknologi.
Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki prospek tinggi dan dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian kedua negara.
Selain memperkuat hubungan dengan Tajikistan, Indonesia juga memanfaatkan forum BRICS PartNIR 2026 untuk mempromosikan sektor manufaktur nasional di tingkat global.
Salah satunya melalui partisipasi sebagai Partner Country pada INNOPROM International Industrial Exhibition 2026 yang akan berlangsung pada 6-9 Juli 2026 di Ekaterinburg, Rusia.
Ajang industri terbesar di kawasan Eurasia itu diharapkan menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor, menarik investor baru, serta memperkuat posisi industri manufaktur nasional di pasar internasional.
Melalui berbagai langkah tersebut, Indonesia dan Tajikistan sepakat memperkuat kemitraan ekonomi yang telah terjalin lebih dari tiga dekade. Kedua negara optimistis kerja sama yang semakin erat akan membuka jalan bagi investasi baru, peningkatan perdagangan, dan pengembangan industri yang berkelanjutan.