Revolusi Sunyi Digital Menyentuh Lapak: Uang di Genggaman, Rentenir Terkapar, Pedagang Diselamatkan

Oleh : Kormen Barus | Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:05 WIB

INDUSTRY.co.id, Jakarta-Lampu pijar lima watt menggantung lesu di los Pasar Induk Kramat Jati. Di bawah cahayanya, Sumarno (58) menatap selembar kertas yang mulai menguning, sebuah saksi masa lalu yang kini jarang disentuh.

“Dulu, meminjam modal terasa seperti mendaki tebing tanpa tali. Kalau mau pinjam ke bank, harus bawa BPKB, sertifikat rumah, surat rekomendasi RT/RW. Akhirnya sering ditolak karena lapak kami dianggap tak lahan duit yang diharapkan," ujar pria kurus ayah 3 anak ini, dengan suara parau tersaing deru truk pikap.

Bagi jutaan pedagang seperti Sumarno, bank adalah istana kaca yang dingin. Marmernya menolak sandal jepit berlumpur. Sementara di luar gerbang, rentenir berkedok “koperasi keliling” mengintai dengan bunga mencekik. Kota tumbuh raksasa, tapi fondasi ekonominya rapuh di tingkat akar rumput.

Cerita Sumarno dari bilik-bilik sempit Ibu Kota adalah soal kehadiran digitalisasi perbankan yang memanusiakan pedagang seperti dirinya. Bukan sekadar memindahkan angka ke layar. Ini kisah tentang runtuhnya sekat birokrasi, patahnya kepungan rentenir dan bagaimana denyut ekonomi kota berpindah dari tumpukan kertas kusam ke genggaman jemari rakyat kecil.

Angin berubah arah ketika transformasi digital menyapu Jakarta. Perlahan tapi pasti, sektor perbankan beramai-ramai mengambil taruhan besar, meruntuhkan tembok kaku perbankan tradisional dan memindahkan ekosistemnya ke jagat virtual yang lebih inklusif.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyebut digitalisasi pasar tradisional sebagai bagian dari transformasi ekosistem keuangan Jakarta.

"Ya upaya ini tidak hanya menghadirkan kemudahan transaksi melalui QRIS dan EDC, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi para pelaku UMKM untuk masuk dalam sistem keuangan formal. Bank Jakarta berkomitmen menjadikan digitalisasi sebagai fondasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan berkelanjutan," jelasnya dengan mata menerawang.

Menembus batas birokrasi

Digitalisasi akhirnya menjadi kebutuhan yang mendorong banyak bank, dari nasional hingga yang berskala lokal, masuk dalam arus digitalisasi dan sukses meruntuhkan tembok birokrasi itu.

Seorang ahli perbankan pernah berguman, tantangannya bukan sekadar membuat aplikasi atau menyediakan teknologi, melainkan mengubah cara penilaian kredit yang selama ini buta terhadap realitas sektor informal.

"Kami membalik logikanya," kata seorang petinggi Bank nasional pada sebuah seminar. "Jika nasabah kecil tak punya rekam jejak formal, kami yang harus membaca jejak digital mereka, konsumsi listrik, pola pembelian pulsa, konsistensi membayar retribusi pasar."

Baca Artikel Lainnya

Road to Ocean Impact Summit 2026: DANA dan KKP Perkuat Komitmen Blue Economy melalui Aksi Bersihkan Pantai

Mastercard Luncurkan Kampanye Phone. Passport. Mastercard., Permudah Liburan Keliling Asia Tenggara

Berawal dari Pesanan Kerabat di Amsterdam, Mlatiwangi Kembangkan Tas Serat Alam hingga Tembus Pasar Internasional Berkat LinkUMKM BRI

Hasilnya memang semacam revolusi sunyi. Seperti yang terjadi di Bank Jakarta. Platform mikro-digital Bank Jakarta, yang terintegrasi dengan ekosistem Jakarta Smart City dan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menganalisis data alternatif, sukses memangkas waktu persetujuan kredit mikro dari dua minggu menjadi hanya tujuh menit.  

Hingga kuartal pertama tahun ini, Bank Jakarta menyalurkan pembiayaan digital Rp 4,2 triliun untuk UMKM informal, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) hanya 0,8 persen, tentu saja angka yang membuat banyak bank swasta terkejut.

Modal di ujung jemari

Kembali ke los Kramat Jati: Sumarno kini memegang telepon pintar murah di tangan yang kasar, bukan selembar kertas kuning. Dengan beberapa ketukan, modal untuk membeli lima ton kubis dari Pangalengan, cair malam itu juga.

"Awalnya saya takut, kira-kira penipuan. Ternyata uangnya masuk langsung, bunganya rendah dan tak ada orang berbadan tegap datang menagih," katanya sambil terkekeh dan menunjukkan aplikasi yang menampilkan saldo modal kerja.

Di perkampungan nelayan Kalibaru, Cilincing, istri-istri nelayan memanfaatkan fitur smart wallet kelompok.

"Sekarang tengkulak tak bisa lagi mempermainkan harga ikan. Kami terima pembayaran digital langsung dari pembeli besar tanpa perantara," kata Nurhayati (42), dari kelompok pengolah ikan asin.

Digitalisasi di tangan perbankan seperti  Bank Jakarta bukan sekadar kompetisi bisnis. Tetapi menjadi urat nadi baru yang mengalirkan darah ke bagian tubuh kota yang selama ini mati rasa.

Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, mengatakan bank akan terus meningkatkan kolaborasi dengan Perumda Pasar Jaya dan mendorong digitalisasi pasar ke depannya.

"Kami meyakini digitalisasi pasar akan berdampak positif terhadap pemberdayaan UMKM dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," ujarnya.

Semangat digitalisasi ini juga yang mendorong pergelaran lomba digitalisasi. Sebuah kolaborasi yang mendorong percepatan untuk mempercepat adaptasi. Bank Jakarta tercatat terlibat aktif dalam program Lomba Digitalisasi Pasar yang bekerja sama dengan Pasar Jaya.

Dari 153 pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya, sebanyak 20 pasar dijadikan lokasi percontohan. Dipilih acak dengan mempertimbangkan klasifikasi (kelas A, B, dan C) serta jumlah tempat usaha yang aktif. Mereka bersaing dalam kategori seperti Program Literasi Teraktif, Digitalisasi Keuangan Terbaik, dan Akses Keuangan Termasif.

Kepala Pasar Mayestik, Dewi Ratna Furi, mengatakan, kolaborasi antara Pasar Mayestik dan Bank Jakarta dalam ajang Lomba Digitalisasi Pasar merupakan langkah yang sangat positif dan strategis.

”Ini bukan sekadar tren, tapi sebuah kebutuhan untuk memastikan pasar tradisional tetap relevan dan berdaya saing di tengah era ekonomi digital," kata Dewi.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan digitalisasi tak bisa dihindarkan dan menyambut inisiatif lomba tersebut sebagai katalis. Menurutnya, jika proses literasi dan digitalisasi tidak diberi perhatian dan indikator (dilombakan), pasar tidak akan mengalami lonjakan.

"Pemakaian QRIS, termasuk transaksinya, artinya apa yang kita lakukan bersama ini, menunjukkan kemajuan yang luar biasa," ungkapnya.

Dampak terukur

Data awal menunjukkan hasil yang menggembirakan: penggunaan QRIS di 20 pasar percontohan meningkat hampir 47 persen, pendaftaran NPWP pedagang naik signifikan dan transaksi e-commerce dari pelaku pasar melonjak lebih dari 40 persen.

Secara makro, Jakarta menyumbang 16,61 persen terhadap GDP nasional dengan pertumbuhan 5,18 persen — sedikit lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,12 persen — dan digitalisasi disebut-sebut sebagai salah satu faktor pendorongnya.

Tantangan di balik layar

Jalan digital bukan tol tanpa hambatan. Redaksi menemukan gelombang serangan phishing menargetkan nasabah baru yang gagap teknologi sepanjang akhir tahun lalu hingga awal tahun ini.

Infrastruktur mungkin siap; edukasi manusia tetap perjuangan panjang. "Infrastruktur kami siap, tetapi edukasi manusianya adalah perjuangan tiada akhir," ujar Direktur Teknologi Informasi Bank Jakarta.

Untuk itu bank meluncurkan "Pendamping Digital." Anak muda yang disebar ke pasar untuk mengajari para lansia menjaga keamanan akun mereka. Langkah mitigasi ini menjadi pembeda.

Saat bank lain menyerahkan risiko pada nasabah lewat syarat rumit, Bank Jakarta turun ke lumpur,  mengetuk pintu demi pintu lapak, memberi pendampingan personal.

Di atas aspal panas Kramat Jati dan di bawah langit temaram, transaksi digital berputar tanpa suara menembus kabut knalpot dan aroma bawang. Jakarta sedang berubah. Dengan sebongkah chip kecil dan algoritma yang berpihak, serta kolaborasi lintas institusi, Bank Jakarta membantu mengembalikan hak atas kesejahteraan ke tangan yang selama ini terlupakan. (Kormensius Barus, kormenindustry@gmail.com).