Digitalisasi Armada Jadi Andalan Aerotrans untuk Mendukung Operasional Aviasi yang Lebih Aman.

Oleh : Candra Mata | Kamis, 11 Juni 2026 - 11:50 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ketika membicarakan keselamatan penerbangan, perhatian publik umumnya tertuju pada teknologi pesawat, sistem navigasi, hingga kompetensi awak kabin dan pilot. Namun, ada satu elemen penting yang sering luput dari sorotan: transportasi darat yang mengantarkan awak penerbangan menuju bandara.

Bagi Aerotrans, penyedia layanan transportasi darat untuk Garuda Indonesia Group, memastikan kru penerbangan tiba tepat waktu dan dalam kondisi siap bertugas merupakan bagian penting dari rantai keselamatan aviasi. 

Dengan armada lebih dari 700 kendaraan dan lebih dari 1.200 perjalanan setiap bulan, perusahaan menghadapi tantangan besar dalam menjaga visibilitas operasional sekaligus meminimalkan risiko di lapangan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Aerotrans mengadopsi teknologi telematika dari Geotab, perusahaan global penyedia solusi armada terhubung berbasis data real-time.

Sebelum implementasi teknologi ini, pemantauan kondisi kendaraan dan identifikasi penyebab insiden masih menghadapi berbagai keterbatasan. Kini, melalui platform telematika Geotab, tim operasional dapat memantau lokasi kendaraan, kondisi mesin, hingga perilaku pengemudi secara langsung, termasuk mendeteksi pengereman mendadak maupun akselerasi agresif yang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.

“Transformasi ini bukan hanya tentang adopsi teknologi, tetapi bagaimana kami memastikan keselamatan dan presisi operasional secara konsisten di seluruh armada. Geotab menghadirkan platform yang selaras dengan nilai kami, terutama dalam hal presisi dan keselamatan. Bagi Aerotrans, Geotab bukan hanya sekadar produk, melainkan mitra strategis,” ujar Kadek Bayu Temaja, Direktur Aerotrans.

Hasilnya mulai terlihat. Sejak implementasi pada September 2024, Aerotrans mencatat peningkatan signifikan pada berbagai indikator keselamatan dan efisiensi operasional. Perusahaan berhasil mencapai skor keselamatan armada sebesar 89 persen, melampaui rata-rata armada sejenis di kawasan regional.

Selain itu, prediksi tingkat kecelakaan per kilometer meningkat hingga 61 persen, mencerminkan kemampuan sistem dalam mengidentifikasi dan mengurangi potensi risiko sebelum insiden terjadi. 

Perilaku berkendara juga menunjukkan perbaikan yang signifikan, ditandai dengan penurunan 57 persen kejadian pengereman mendadak dan berkurangnya akselerasi agresif hingga 66 persen. Sementara itu, durasi kendaraan dalam kondisi idle turun 22 persen, memberikan dampak positif terhadap efisiensi bahan bakar dan biaya operasional.

Baca Artikel Lainnya

Laba Melonjak 78%, GMFI Bidik Pertumbuhan Berkelanjutan Lewat Diversifikasi dan Ekspansi

INDEF GTI Usul Tiga Sumber Penerimaan Daerah Sebelum Insentif Kendaraan Listrik Dicabut

Super Fast Charging EV dan Infrastruktur di Indonesia

Menurut Ezanne Soh, Associate Vice President Southeast Asia Geotab, kemitraan ini menunjukkan bagaimana pemanfaatan data real-time dapat menciptakan nilai yang lebih luas daripada sekadar pengelolaan armada.

“Tujuan kami adalah membantu organisasi memaksimalkan potensi armada mereka melalui data dan teknologi canggih. Dalam konteks operasional penerbangan, insight real-time dari platform Geotab mampu meningkatkan efisiensi, memperkuat keselamatan transportasi awak, serta mendukung operasional aviasi yang lebih andal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih jauh, pemanfaatan teknologi telematika ini juga berdampak langsung terhadap kelancaran operasional penerbangan. Melalui fitur geofencing dan pemetaan lokasi secara real-time, Aerotrans dapat memantau kendaraan yang memasuki area operasional penting, termasuk kawasan bandara, sehingga proses penjemputan dan pengantaran awak berlangsung lebih presisi.

“Geofencing merupakan salah satu fitur unggulan Geotab. Fitur ini memungkinkan kami melacak kendaraan yang mendekati zona operasional penting seperti area Bandara I Gusti Ngurah Rai maupun Bandara Soekarno-Hatta, sehingga kami memiliki visibilitas real-time atas posisi kendaraan secara presisi,” kata Hermawan, Kepala Pusat Pengendalian Operasi Transportasi (Control Center) Aerotrans.

Pengalaman Aerotrans menunjukkan bahwa keselamatan penerbangan tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang bekerja di udara. Sistem pendukung di darat yang terhubung, terukur, dan berbasis data juga memainkan peran penting dalam menjaga kelancaran operasional penerbangan secara menyeluruh.

Ke depan, Aerotrans berencana memperluas integrasi platform Geotab dengan Transport Management System (TMS) milik perusahaan. Langkah ini ditujukan untuk membangun ekosistem operasional yang semakin terhubung, mulai dari identifikasi kendaraan terdekat yang tersedia, peningkatan akurasi pengiriman layanan, hingga percepatan waktu respons.

Inisiatif tersebut tidak hanya memperkuat efektivitas operasional internal, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan teknologi serupa di berbagai sektor transportasi lain, termasuk pariwisata dan logistik yang semakin membutuhkan sistem pengelolaan armada berbasis data dan real-time.