ABI dan PINTU Perkuat Literasi Siber, Waspadai Lonjakan Penipuan Digital Berbasis AI

Oleh : Hariyanto | Kamis, 25 Juni 2026 - 11:32 WIB

INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Meningkatnya ancaman kejahatan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), phishing, hingga rekayasa sosial mendorong kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri teknologi. Dalam upaya memperkuat ketahanan digital nasional, Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) yang diwakili oleh PINTU mengambil bagian dalam Festival Aman Digital 2026 yang diselenggarakan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Forum yang mengusung tema “Kolaborasi Lintas Sektor Guna Mensukseskan Literasi Keamanan Siber Nasional” tersebut menjadi wadah bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas strategi menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks di tengah pesatnya transformasi digital.

Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro, menegaskan bahwa peningkatan literasi keamanan siber merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Menurutnya, keberhasilan program literasi tidak dapat dicapai hanya oleh satu lembaga.

“Aksi gerakan nasional 90 hari literasi keamanan siber sebagai bagian dari upaya bersama dalam mendukung implementasi rencana aksi nasional keamanan siber. Keberhasilan literasi keamanan siber tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi saja. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, baik kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, media, maupun masyarakat luas,” ujar Satryo.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, menilai ancaman siber saat ini telah berkembang melampaui gangguan sistem teknologi semata. Menurutnya, pelaku kejahatan kini semakin sering mengeksploitasi sisi psikologis masyarakat.

“Serangan siber hari ini bukan lagi sekadar soal sistem yang down, melainkan sudah menyasar sisi psikologis manusia melalui social engineering, kebocoran data pribadi, hingga maraknya disinformasi,” kata Marulina.

Dari sisi regulator sektor jasa keuangan, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen OJK sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, Daniel Apriandi, mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat literasi digital masih menjadi celah utama yang dimanfaatkan pelaku kejahatan. Kelompok usia produktif menjadi sasaran utama karena aktivitas transaksi digital yang tinggi.

“Kelompok usia 25–49 tahun adalah yang paling produktif sekaligus paling banyak disasar penipu, karena mereka yang paling aktif bertransaksi secara digital. Scam dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deep fake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna,” ujar Daniel.

Baca Artikel Lainnya

Harga Emas Antam dan UBS Hari Ini 25 Juni 2026

Harga Emas Antam dan UBS Hari Ini 24 Juni 2026

Cara Mencairkan Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan 2026

Dalam forum tersebut, ABI menyoroti pentingnya edukasi masyarakat mengenai teknologi blockchain dan aset kripto sebagai bagian dari upaya perlindungan konsumen di era digital. Anggota Departemen Advokasi Strategis ABI yang juga Public Policy & Government Relations Manager PINTU, Deny Giovanno, mengatakan pihaknya terus mengembangkan berbagai program literasi guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai modus penipuan digital.

“Untuk memerangi kejahatan siber, kami terus mendorong peningkatan literasi keamanan siber yang dilakukan oleh ABI dan para anggotanya. Salah satunya melalui Bulan Literasi Kripto yang diadakan sejak tahun 2023. BLK adalah kampanye edukasi tahunan berskala nasional di Indonesia yang diinisiasi OJK bersama ABI yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang aset kripto dan teknologi blockchain,” jelas Deny.

Ia menambahkan bahwa berbagai program edukasi tersebut merupakan bagian dari komitmen industri untuk membangun masyarakat yang lebih kritis dan memahami risiko yang muncul dalam aktivitas digital.

“Berbagai inisiatif program literasi dan edukasi yang kami galakkan ini merupakan komitmen bersama kami untuk meningkatkan kritisisme masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai bentuk penipuan di era digital,” ujarnya.

Festival Aman Digital 2026 menjadi salah satu langkah strategis BSSN dalam memperkuat ketahanan siber nasional melalui kolaborasi lintas sektor. Selain pemerintah dan regulator, forum ini juga melibatkan pelaku industri perbankan, komunitas keamanan siber, hingga organisasi masyarakat yang fokus pada edukasi digital.

Menutup partisipasinya dalam acara tersebut, Deny menegaskan bahwa ABI akan terus memperkuat kerja sama dengan regulator dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan pemanfaatan teknologi blockchain dan aset kripto berlangsung secara aman dan bertanggung jawab.

“Partisipasi ABI dalam Festival Aman Digital 2026 menegaskan komitmen kami untuk terus mendukung agenda nasional peningkatan literasi keamanan siber dan perlindungan konsumen. Ke depan, kami akan memperkuat sinergi dengan regulator, instansi pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi blockchain dan aset kripto secara aman, bijak, dan bertanggung jawab,” tutup Deny.