Karel Jehaut, Sang Midas Lapangan Hijau dari Flores
INDUSTRY.co.id, Jakarta-Karel Jehaut menepuk rumput lapangan Kota Komba sambil tersenyum pelan, matanya menelusuri garis putih yang segera akan riuh.
Di bawah matahari Jakarta yang tak kenal kompromi, lapangan hijau berubah jadi panggung di mana rindu dan ambisi bermetamorfosis menjadi gol, teriakan, dan pelukan.
Bagi diaspora Manggarai di ibu kota, Karel bukan sekadar pelatih. Ia menjadi jangkar komunitas dan sumber kebanggaan; dengan catatan prestasinya, namanya sering disamakan dengan sentuhan Midas — apa pun yang disentuhnya di lapangan kerap berbuah keberhasilan.
Karel lahir pada 1 Juni 1977 di Manggarai Timur, Flores, sebuah daerah yang memelihara tradisi sepak bola rakyat. Sejak remaja ia sudah menjadi kiper, membela Persim Manggarai dan Bulldozer FC Ruteng, pengalaman yang membentuk disiplin dan keberaniannya.
“Sepak bola sudah menjadi bagian yang tidak terpisah dari kehidupan saya,” ujarnya santai, di sela sela pentas budaya Caci yang digelar sebagai penutup Turnamen Masta Cup 1/2026. di kawasan Dewantara Sport Center, Tangerang Selatan pada Minggu (14/626).
Karier membawanya ke Jakarta bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga membawa misi: menjaga identitas komunitas Manggarai lewat olahraga.
Pengalaman sebagai pemain memberi bekal teknis, namun yang membuat kiprahnya istimewa adalah keterikatannya pada akar budaya komunitas. Di Jakarta ia mengorganisasi pemuda Manggarai Timur, terutama dari Kota Komba, membentuk tim yang sering tampil di turnamen komunitas: Wua Mesu Cup, Ngada Cup, dan Compang Cama Cup.
Sejak 2016 ia memimpin Tim Kota Komba JKT (KKJ). Hampir di setiap turnamen besar komunitas, timnya selalu menempati podium. Di bawah asuhannya, KKJ menjuarai Boy Cup, Manus Family Cup, IKMK Cup, dan Masta Cup 1 pada 2026.
Baru-baru ini, Karel menambah kompetensinya secara resmi: pada Mei 2025 di Manggarai Timur ia mengikuti dan lulus program lisensi D Kepelatihan Nasional. Sertifikasi ini memperkuat pendekatannya pada latihan dan perencanaan tim, serta memberi legitimasi tambahan pada perannya sebagai pembina generasi muda.
Prestasi itu bukan sekadar piala. Mereka membuktikan bahwa olahraga mampu merawat kebersamaan dan melestarikan warisan budaya.
Meski aura “Midas” melekat pada setiap kemenangan, Karel menolak klaim magis. Bagi dia, kemenangan lahir dari kerja keras dan struktur. Karena usia, ia lebih banyak berperan sebagai pelatih, koordinator, dan penggerak: merancang latihan, menyusun strategi, menengahi konflik, sekaligus menggalang sumber daya—seragam, lapangan, transportasi—dengan jaringan diaspora yang kuat.
Baca Artikel Lainnya
Yasin Ayari, Pemain Muslim Swedia, Tolak Selebrasi Usai Cetak Gol spektakulernya ke Gawang Tunisia, Demi Menghormati Akar Keluarga Ayahnya Berkebangsaan Tunisia
Piala Dunia 2026: Jepang VS Belanda Siapakah Yang Akan Menang? Berikut Statistiknya
Jepang VS Belanda di Captain Tsubasa Akhirnya akan Terealisasi di Piala Dunia 2026: Siapa Yang Akan Menang?
Proyeknya sering lahir dari kebutuhan sederhana: anak-anak yang rindu lapangan, keluarga yang ingin sorak nama kampung, pemuda yang butuh ruang agar tak terseret arus urbanitas. Ia mengubah ruang-ruang kecil itu menjadi arena pembentukan karakter. “Saya ingin mereka merasakan disiplin, kekompakan, dan rasa bangga terhadap asal-usul,” ujarnya.
Karel paham bahwa selain teknik, sepak bola menyalurkan identitas kolektif, sebuah bahasa lintas generasi dan kelas sosial. Jejaknya juga berwujud sosial: beberapa alumni latihannya kini menjadi pelatih sekolah dasar atau pengurus komunitas, bukti dampak berkelanjutan yang melampaui gelar dan trofi.
Kehadirannya menghubungkan masa lalu dan kini. Pindah dari Ruteng ke Jakarta tak memutus tali itu; bila apa pun terjadi, jarak justru menajamkan peranan. Ia sering diminta memberi sambutan acara adat, menjadi juri pertandingan antarkampung, atau tuan rumah ketika tim Flores datang ke Jakarta. Migrasi, menurutnya, tidak harus menghapus identitas dengan organisasi dan niat, identitas bisa menjadi sumber kebanggaan dan solidaritas.
Tantangannya nyata: tekanan untuk terus menang, kekhawatiran soal regenerasi, dan dilema antara pekerjaan tetap dan amanah sosial. Karel menanggapi dengan keseimbangan ritual: latihan terjadwal, komunikasi terbuka dengan orang tua pemain, serta rekrutmen inklusif yang membuka kesempatan bagi anak dari berbagai latar belakang.
Di lapangan yang sama, ia mengajarkan pelajaran hidup: kerja sama, ketahanan menghadapi kekalahan, dan pentingnya menjaga akar.
“Sepak bola mengajarkan hidup. Di lapangan kamu bisa jatuh berkali-kali, tapi harus bangkit,” katanya. Kalimat itu bergema di antara pemain muda yang berlatih tiap sore.
Sang Midas Lapangan Hijau bukan sekadar mitos. Ia perwujudan pengalaman, jaringan komunitas, dan kerja keras. Nama Karel tertulis di papan penghargaan turnamen diaspora, namun yang lebih penting adalah jejaknya pada generasi yang ia didik mereka yang kini memimpin latihan, mengurus tim, atau menularkan cinta bola pada adik-adik mereka.
Di tengah hingar ibu kota, Karel dan timnya menjaga sepotong Flores tetap hidup lewat suara stadion kecil, sorak, dan pelukan sesama kampung.
Ketika sore menipis dan lampu-lampu lapangan menyala, Karel berdiri menonton anak-anak berlatih, tangan bersedekap. Wajahnya memancarkan kepuasan sederhana—lega melihat benih yang ditanam tumbuh, bukan hanya menjadi pemain, tetapi juga penjaga cerita kampung. Di sinilah kekuatan sejati bukan pada piala yang berkilau, melainkan pada kelanjutan tradisi yang tak lekang oleh jarak.
Seperti Midas dalam legenda Yunani, sentuhannya di lapangan memang mengubah apa yang ada di sekitarnya menjadi sesuatu yang berharga—tetapi nilai itu bukan sekadar kilau medali. Yang Karel "ubah" adalah kesempatan, rasa memiliki, dan keberlanjutan cerita sebuah komunitas.
Apa yang ia sentuh menjadi emas karena memberi kehidupan baru pada warisan kolektif, sehingga setiap gol dan tiap tepuk tangan menaruh nilai yang jauh melampaui logam berkilau.