Pasar Apartemen Jakarta Stabil di Kuartal I 2026, Pembeli Incar Unit Siap Huni

Oleh : Hariyanto | Selasa, 09 Juni 2026 - 10:35 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta — Pasar apartemen di Jakarta menunjukkan tren yang relatif stabil pada kuartal I 2026. Kondisi ini ditopang oleh permintaan yang didorong berbagai insentif serta meningkatnya minat konsumen terhadap unit yang telah siap dihuni.

Laporan terbaru Colliers mencatat hampir 300 unit apartemen terjual sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Sekitar 50% dari penjualan tersebut berasal dari apartemen siap huni, seiring berlanjutnya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100% sepanjang 2026 yang memberikan kepastian biaya bagi pembeli.

Di sisi pasokan, sekitar 2.000 unit apartemen dijadwalkan rampung sepanjang tahun ini. Namun hingga akhir kuartal I 2026, realisasi penyelesaiannya baru mencapai sekitar 10%. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya potensi mundurnya jadwal penyelesaian sejumlah proyek.

Jakarta Selatan masih menjadi kawasan dengan aktivitas pengembangan paling dominan. Wilayah ini menyumbang sekitar 60% dari total pasokan apartemen yang direncanakan sepanjang 2026.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan jika seluruh proyek dapat diselesaikan sesuai jadwal, maka pasokan yang hadir tahun ini akan memiliki porsi yang sangat besar terhadap suplai beberapa tahun mendatang.

“Untuk sisa tahun 2026, apabila seluruh proyek selesai tepat waktu, maka akan merepresentasikan sekitar 70% dari total pasok selama periode tahun 2026–2029. Artinya, berdasarkan konstruksi saat ini, proyeksi pasok mendatang setelah tahun 2026 akan sangat terbatas,” ujar Ferry dalam laporannya.

Persaingan di pasar apartemen juga tidak lagi ditempuh melalui perang harga. Pengembang lebih memilih menawarkan berbagai insentif tambahan, mulai dari unit yang sudah dilengkapi furnitur hingga kemudahan pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR), untuk menarik minat konsumen di tengah pasar yang semakin selektif.

Secara rata-rata, harga apartemen masih bergerak stabil dengan kenaikan terbatas di sejumlah kawasan. Namun, tekanan terhadap harga berpotensi muncul seiring meningkatnya biaya konstruksi akibat dinamika geopolitik global yang berdampak pada pengembangan proyek-proyek baru.

Dalam situasi pasar yang belum sepenuhnya pulih, para pengembang juga cenderung mengadopsi strategi yang lebih konservatif. Alih-alih meluncurkan proyek baru secara agresif, mereka lebih memprioritaskan penjualan stok unit yang masih tersedia. Pendekatan ini mencerminkan perubahan strategi dibandingkan periode sebelum pandemi, ketika ekspansi proyek berlangsung lebih agresif.


Baca Artikel Lainnya

Jakarta Setiabudi International Bagikan Dividen Rp25 per Saham

Laris Manis Bak Kacang Goreng! Klaster Vyorelle BSD City Nyaris Sold Out

RISE Bidik Pertumbuhan Double Digit, Perkuat Hotel dan Ekspansi ke Luar Jawa