Telkom Indonesia Jaga Momentum Pertumbuhan Meski Laba 1Q26 di Bawah Ekspektasi

Oleh : Candra Mata | Rabu, 03 Juni 2026 - 06:28 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Telkom Indonesia (TLKM) membukukan laba bersih sebesar Rp4,3 triliun pada kuartal I-2026, turun 22% secara tahunan namun melonjak 114% dibanding kuartal sebelumnya. Capaian tersebut berada di bawah ekspektasi pasar karena baru merepresentasikan sekitar 19% dari estimasi laba bersih konsensus sepanjang 2026.

Jika mengesampingkan sejumlah faktor non-operasional, laba bersih ternormalisasi TLKM tercatat Rp5,1 triliun atau turun 3,7% YoY. Penurunan ini terutama dipicu oleh tekanan operasional yang tercermin dari margin EBITDA yang menyusut menjadi 48,3%, dibandingkan 49,8% pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan beban operasi, pemeliharaan, dan telekomunikasi sebesar 15% YoY menjadi faktor utama di balik kontraksi margin. Peningkatan aktivitas jaringan, biaya leased line, serta biaya layanan digital yang mendukung pertumbuhan pendapatan turut mendorong kenaikan beban tersebut. Meski demikian, manajemen memperkirakan laju pertumbuhan biaya akan mulai melambat pada kuartal-kuartal berikutnya.

Di luar tekanan profitabilitas, kinerja operasional masih berada dalam jalur yang mendukung pencapaian target tahun ini. Pendapatan tumbuh sekitar 2% YoY pada 1Q26, berada dalam rentang guidance pertumbuhan 1–3% untuk 2026. Sementara itu, rasio capex terhadap pendapatan tercatat 13,2%, masih di bawah target tahunan sebesar 17–19%.

Dari sisi bisnis seluler, ARPU Telkomsel naik menjadi Rp45,1 ribu, tumbuh 6,4% YoY dan relatif stabil secara kuartalan. Pertumbuhan tersebut menunjukkan keberhasilan strategi peningkatan kualitas layanan serta kondisi industri yang semakin rasional. Menariknya, meski jumlah pelanggan turun menjadi 153,7 juta, manajemen menilai kualitas basis pelanggan terus membaik.

Perusahaan kini lebih berfokus pada pelanggan bernilai tinggi dibanding sekadar mengejar volume. Hal ini tercermin dari menurunnya rotational churn serta meningkatnya loyalitas pelanggan, dengan lebih dari 90% pelanggan memiliki masa berlangganan di atas 12 bulan. Manajemen juga mengungkapkan bahwa exit ARPU pada akhir kuartal pertama telah mencapai Rp47 ribu, memberikan ruang bagi pertumbuhan ARPU yang lebih baik sepanjang tahun.

Di sisi transformasi korporasi, TLKM terus melanjutkan program streamlining bisnis. Hingga awal Juni 2026, perusahaan telah merampingkan empat unit usaha, termasuk menyelesaikan divestasi bisnis kesehatan Admedika dan Telkomedika. Perseroan menargetkan total 9–10 bisnis akan menjalani proses streamlining sebelum akhir semester pertama 2026.

Selain itu, proses value unlocking pada aset fiber melalui Infranexia dan bisnis data center juga terus berjalan. Untuk bisnis fiber, penyelesaian fase kedua kini ditargetkan pada kuartal III-2026 setelah adanya penyesuaian terkait kesiapan aset dan operasional. Sementara itu, proses pencarian investor strategis untuk bisnis data center telah memasuki tahap akhir dengan tersisa satu hingga dua kandidat potensial.

Secara keseluruhan, kinerja kuartal pertama menunjukkan adanya tekanan jangka pendek pada profitabilitas. Namun, prospek pencapaian target 2026 masih terjaga berkat pertumbuhan ARPU, peningkatan kualitas pelanggan, serta potensi perlambatan beban operasional di sisa tahun berjalan.

Di samping itu, pasar juga menantikan realisasi monetisasi aset pada segmen infrastruktur B2B yang dinilai memiliki potensi nilai tersembunyi cukup besar. Sebagai tambahan katalis, manajemen mengindikasikan peluang pembagian dividen yang tetap atraktif dalam RUPS yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Juni 2026.