Delegasi Indonesia di PATA Annual Summit 2026 Soroti Perubahan Perilaku Wisatawan Asia Pacific

Oleh : Ridwan | Kamis, 14 Mei 2026 - 16:30 WIB

INDUSTRY.co.idJakarta – Masa depan pariwisata Asia Pacific diprediksi tidak lagi ditentukan oleh banyaknya jumlah wisatawan yang datang, melainkan kemampuan sebuah destinasi membaca perubahan perilaku turis global yang kini semakin dinamis dan berbasis digital.

Insight tersebut mengemuka dalam ajang PATA Annual Summit 2026 yang digelar di Kota Gyeongju dan Pohang, Korea Selatan, pada 11-13 Mei 2026. Forum bertema “Navigating Towards a Resilient Future” itu dihadiri lebih dari 550 delegasi dari 35 destinasi Asia Pacific, termasuk delegasi PATA Indonesia Chapter, Ardiyansyah Djafar.

Menurut Ardiyansyah, perubahan tren wisata global saat ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing sektor pariwisatanya.

“Insight terbesar dari PATA Annual Summit 2026 adalah bahwa masa depan pariwisata Asia Pacific tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, tetapi siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan,” ujar Ardiyansyah dalam keterangannya.

Dalam forum tersebut, Pacific Asia Travel Association (PATA) memproyeksikan jumlah kunjungan wisatawan internasional di kawasan Asia Pacific mencapai 761,2 juta pada 2028. Sementara sekitar 68,3 persen perjalanan masuk pada 2025 diperkirakan berasal dari wisata intra-regional atau perjalanan antarnegara di kawasan Asia Pacific.

Angka tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa persaingan antar destinasi wisata ke depan akan semakin ketat dan bergantung pada kemampuan memahami kebutuhan wisatawan modern.

AI dan Digitalisasi Ubah Cara Promosi Destinasi

Salah satu sorotan utama dalam forum tersebut datang dari perusahaan travel marketing technology Sojern yang mengungkap adanya perubahan besar dalam strategi destination marketing global.

Baca Artikel Lainnya

Acaraki Jamu Festival 2026 Ajak Generasi Muda Banggakan Warisan Budaya Indonesia

Kampung Joglo KEK Tanjung Lesung Bakal Jadi Basecamp Proyek Film Prancis

Investor Asing Ungkap Potensi Tersembunyi KEK Tanjung Lesung: Mirip Kawasan Elite Dunia

Perubahan itu dipicu oleh ekspektasi wisatawan yang semakin beragam, perkembangan teknologi artificial intelligence (AI), hingga perubahan pola wisatawan dalam mencari inspirasi perjalanan sampai melakukan pemesanan.

Dalam laporan State of Destination Marketing 2026, Sojern menyebut para pelaku promosi destinasi kini menghadapi tekanan lebih besar untuk menunjukkan dampak nyata dan terukur dari strategi pemasaran yang dijalankan.

Kondisi tersebut membuat digitalisasi dan pemanfaatan AI menjadi faktor penting dalam memenangkan persaingan industri pariwisata global.

Indonesia Dinilai Punya Modal Kuat

Bagi Indonesia, tren tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi pariwisata nasional yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.

Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara. Sementara pada Maret 2026, jumlah kunjungan wisatawan asing tercatat mencapai 1,09 juta.

Menurut Ardiyansyah, Indonesia sebenarnya sudah memiliki fondasi pasar yang kuat. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas pengalaman wisata agar lebih autentik, berkelanjutan, dan terintegrasi secara digital.

“Tantangan Indonesia saat ini bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kualitas pengalaman yang lebih autentik, digital-ready, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi,” katanya.

Ia menilai perubahan perilaku wisatawan global menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat positioning pariwisata berbasis pengalaman budaya, keberlanjutan, serta konektivitas digital.

Selain membahas transformasi industri pariwisata global, PATA Annual Summit 2026 juga mengangkat sejumlah isu strategis lain, mulai dari sustainable tourism governance, digital tourism resilience, pemanfaatan AI di sektor travel, hingga pengembangan talenta muda pariwisata Asia Pacific.

Ardiyansyah berharap ke depan semakin banyak pelaku industri pariwisata nasional, termasuk regulator seperti Kementerian Pariwisata dan InJourney, dapat terlibat dalam forum internasional seperti PATA Annual Summit.

“Momen seperti PATA Annual Summit menjadi penting tidak hanya bagi pelaku industri pariwisata, tetapi juga regulator dan pemangku kebijakan pariwisata di Indonesia,” tutupnya.